Monday, February 16, 2015

The Atlantis Gene


Judul : The Atlantis Gene 
Pengarang : A.G Riddle
Penerjemah : Ahmad Alkadri
Penyunting : Mery Riansyah
Jumlah Halaman : 582 hlm
Penerbit : Fantasious 


Tema tentang atlantis sang kota yang hilang rupanya masih membuat beberapa orang kepincut untuk menjadikannya sebuah tema untuk novel, film atau bahkan video game. Tak terkecuali buku ini. Padahal sampai sekarang juga sepertinya belum ada yang tahu maksud Plato sebenarnya ketika dia menulis tentang Atlantis. Apakah Atlantis itu memang secara tersurat seperti yang ditulis Plato yaitu sebuah wilayah dengan udara tropis, alam subur, rakyat makmur dan berteknologi tinggi yang kemudian benar-benar hilang ditelan air bah, atau penggambaran tersebut tidak bersifat literal dan hanya penganalogian Plato terhadap suatu kondisi politik tertentu?

Yah mari kesampingkan dulu keambiguan teori Plato tersebut.

AG Riddle dalam buku ini mengambil teori Plato dengan pengertian yang pertama, dimana ada sebuah wilayah yang kini telah terkubur dan memiliki teknologi yang jauh lebih maju dibandingkan eranya, dan juga berisi manusia-manusia super dengan kecerdasan yang tinggi.

Para ahli dari sebuah institusi yang bernama Immari selama ratusan tahun telah berusaha menemukan dan menyibak rahasia dari Atlantis yang hilang. Pencarian mereka tak sia-sia. Mereka telah menemukan sebuah senjata yang diyakini dibuat oleh Bangsa Atlantis. Senjata yang dalam buku ini disebut dengan istilah "lonceng", memiliki kemampuan untuk meledakkan pembuluh darah manusia biasa ketika digetarkan, dan bahkan lonceng tersebut juga bisa melambatkan waktu.

Senjata inilah yang kemudian membuat Immari mencari tahu apa yang membuat manusia biasa seperti mereka tak bisa bertahan dari kekuatannya sedangkan Bangsa Atlantis bisa. Apa perbedaan genetika diantara mereka? Riset ini kemudian akan mengarah kepada pencarian gen Bangsa Atlantis yang diyakini bisa ditanamkan/dipicu ke dalam manusia biasa sehingga menjadi sesuper Bangsa Atlantis.

Katherine Warner adalah seorang doktor yang risetnya dalam bidang pengobatan autisme dibiayai oleh Immari Sains. Kate -biasa Ia dipanggil- dalam suatu hari dimana dia sudah putus asa kalau risetnya tak berhasil, harus dibuat terpukau dengan kemampuan dua anak autis yang dijadikannya objek percobaan. Kedua anak tersebut yang menderita gejala autisme klasik tiba-tiba bisa menyelesaikan sebuah puzzle yang hanya bisa diselesaikan oleh mereka yang memiliki IQ >140. Hal yang sangat mustahil dilakukan oleh mereka sebelum terapi terakhir Kate kepada kedua anak tersebut dilakukan.

Fakta ini mendorong Immari Sains pusat menjadi sangat tertarik dan lalu menculik kedua anak tersebut untuk dicoba terhadap kekuatan lonceng. Mereka juga mencuri catatan riset Kate dan mencoba mengaplikasikan kepada objek-objek manusia yang selama ini direkrut oleh Immari untuk menemukan aktivitas gen yang dapat menghadapi kekuatan lonceng. Dan ternyata hasilnya, kedua anak tersebut selamat sedangkan manusia dewasa yang diberikan terapi sesuai catatan riset Kate tidak dapat mengatasi kekuatan lonceng dan mati.
Hmm.. bukankah Kate secara tak langsung adalah bagian dari Immari mengingat risetnya dibiayai oleh Immari Sains, lalu mengapa mereka harus menculik kedua anak tersebut dan mencuri catatan riset Kate? Lalu apa yang menyebabkan kedua anak tersebut berhasil sedangkan manusia dewasa tidak? Jawabannya bisa langsung dibaca sendiri di bukunya biar ga spoiler :p

Di sisi lain ada David Vale. Dia seorang mantan pemadam kebakaran yang ikut dalam aksi pemadaman world trade center saat periatiwa 9/11, yang lalu direkrut CIA dan kini menjadi kepala cabang Jakarta dari Clock Tower Security Inc. Clock Tower Security Inc yang dalam buku ini diterjemahkan menjadi Institusi Menara Jam, adalah sebuah institusi anti teror yang menyamar sebagai perusahaan penyedia bodyguard untuk ekspatriat yang mampir ke Jakarta. Fokus utama mereka saat ini adalah ancaman teroris yang diberi nama Protokol Toba.
Protokol Toba sendiri adalah suatu upaya untuk menekan populasi manusia di dunia. Dengan berlandaskan pada efek dari peristiwa letusan super besar Gunung Toba dan teori lompatan besarlah sebenarnya tujuan akhir dari Protokol Toba tersebut.. dan apakah itu? Lalu apakah hubungannya dengan penelitian Kate? Dengan lonceng? Dengan Bangsa Atlantis? Semuanya bisa dibaca di buku ini. Ending yang lumayan bikin bengong :D


Buku ini sebenarnya cukup menjanjikan untuk menjadi sebuah buku dengan status "page turner". Namun sayang, penggambaran peristiwa dalam buku ini yang disajikan dalam sebuah bab-bab pendek, dan sebagian besar berisi action kadang membuat pikiranku bingung tentang peristiwa apa yang sebenarnya sedang terjadi. Penulis mungkin berusaha meniru teknik Dan Brown dengan menyajikan tulisan dengan gaya seperti ini agar bisa terjaga tempo nya, terjaga tegangnya.. Namun karena buku ini berisi banyak tokoh dengan begitu seringnya berpindah tempat di setiap bab, membuat aku sebagai pembaca pusing. Bahkan suatu objek penelitian yang kemudian tewas pun dimasukin ke satu bab sendiri coba.. zzZzzZz..
Membaca buku ini juga harus sabar banget, terlalu banyak peristiwa dan intrik sebelum mencapai tujuan utamanya.

Lalu yang membuat buku ini akhirnya tidak menjadi buku yang page turner buat aku adalah logic failed yang beberapa kali aku temukan. Okay.. okay.. ini memang buku fiksi, dan segalanya bisa saja terjadi suka-suka penulisnya.. tapi ketika menggunakan Jakarta sebagai sebuah setting tempat, otomatis aku akan bereaksi donk jika ada yg aneh dengan penggambaran tempatnya? Secara tiap hari aku kencan dengan kota ini. Dimulai dari penjualan The New York Times di kios koran Stasiun Manggarai, pasar apung di Kali Pesanggrahan, lalu bagaimana sekelompok pasukan bersenjata orang bule yang bisa dengan bebas masuk rumah nelayan Indonesia untuk mencari orang bule lainnya.. hellow.. kita punya TNI loh.

Jadi agak bikin sakit hati gitu ngelihat jalan cerita ini, kesannya Indonesia bisa dengan bebas dimasuki oleh bule-bule itu. Kesannya mereka lebih superior dan rakyat dari negara-negara dunia ketiga macam kita gak akan protes dengan apa yang mereka lakukan. Indonesia terlihat jelek, dan buku ini menimbulkan emosi nasionalisme. Aku sempat menanyakan ini langsung kepada penulisnya, dan katanya dia gak bermaksud kayak gitu, dia minta maaf. Dia juga bilang kalau sebelumnya dia sudah melakukan riset selama dua tahun tentang Jakarta dan Indonesia. Riset yang ternyata membuat dia mengira kalau Jakarta adalah kota besar yang paling dekat dengan Gunung Toba di Sumatera Utara sana sehingga membuat David Vale memutuskan membangun Clock Tower cabang Jakarta untuk mengatasi Protokol Toba, sudah gitu di buku ini Jakarta ternyata jaraknya cuma 96 km lagi dari Gunung Toba.. hahhahaha..

Okay.. okay.. maafkan aku karena mempermasalahkan hal ini, soalnya ini kan fiksi ya, siapa tahu Jakarta dan Gunung Toba di buku ini terdapat di sebuah negara yg diciptakan sendiri oleh penulisnya. Ya ga?

Logic failed nya lagi adalah ketika Kate dan David akhirnya bisa keluarga dari Jakarta dengan sebuah pesawat amphibi menuju Tiongkok tanpa melalui petugas imigrasi. Tanpa meminta izin kepada otoritas setempat. Bahkan seorang Dan Brown dalam bukunya The Da Vinci Code membutuhkan fakta bahwa Leigh Teabing adalah seorang milyarder, memiliki pesawat pribadi, landasan pribadi dan kebebasan akses mengunjungi beberapa negara agar bisa terbang tanpa melewati proses imigrasi, sudah gitu pilotnya harus memiliki izin diplomatik pula. Lalu bagaimana dengan di buku ini? Ga ada tuh fakta-fakta kayak gitu. David Vale bebas-bebas saja melakukan pendaratan di Tiongkok yang walaupun tidak meminta izin dari otoritas setempat ternyata bisa lolos dari radar militer hanya dengan sebuah pesawat amphibi tua :p

Kemudian yang membuat membaca buku ini sedikit terganggu adalah typo yang bertebaran. Serta penggunaan tanda baca "-" pada beberapa kata yang masih dalam satu baris. Karena typo ini aku jadi ragu kalau jarak toba-jakarta itu beneran tertulis 96 km atau typo? Namun untunglah seorang teman membantu dengan mengecek google maps.. dan jarak Toba-Jakarta itu ada di kisaran 2000-an km. Jadi sepertinya yang 96km itu bukan typo. Beberapa typo yang sempat aku catat adalah :
Hlm 17 : terdesak menjadi tersedak
Hlm 55 : ada kalimat "dia harus memberitahu penyidik tersebut sidang" aku bingung ini kesalahan penerjemahan sehingga jadi aneh begini kalimatnya, atau ada kata yang hilang?
Hlm 72 : ada kalimat " David sisa arsip ke seberang meja." Ini juga ada missing word ya.
Hlm 82 : utu seharusnya itu

Dan beberapa typo lain yang tak sempat aku catat. Semoga di cetakan selanjutnya, semua typo ini bisa diperbaiki. Dan satu lagi, covernya diubah dooonk... Monas emang trademark Jakarta, tapi dengan adanya monas dan gambar seperti ada roh keluar dari monas itu jadi terkesan buku ini bercerita tentang jin.

Sedangkan untuk kualitas terjemahannya so far so good. Buku ini dapat menjabarkan peristiwa-peristiwa ilmiah dengan baik dan dapat dimengerti di edisi Indonesianya.

Jadi 2.5 bintang untuk buku ini.. :)


2 comments:

  1. Baru nyadar kalau emang kayak ada jin keluar dari Monas di covernya , wkwkwk
    Reviewnya bagus Mba Lune, imbang kok antara kelebihan ma kekurangannya :). Kayaknya pinjem aja deh, dan mungkin buku ini juga bakal bikin aku berkerut2 terus pas bacanya

    ReplyDelete
  2. Makasih Mba Luna reviewnya ^^
    maaf banyak typo hiks...
    semoga pas cetak ulang sudah bersih dari typo... >.<

    ReplyDelete