Friday, December 19, 2014

The Silkworm


THE SILKWORM
by. Robert Galbraith
Paperback, 532 pages
Published by Gramedia Pustaka Utama


Welcome back Cormoran Strike!

Setelah terkuaknya misteri kematian model terkenal Lula Landry, nama Cormoran Strike sebagai seorang detektif partikelir mulai dikenal oleh masyarakat luas. Kasuspun mulai mengalir satu persatu, yah walaupun yang paling banyak teteeeup kasus penyelidikan perselingkuhan.

Hingga suatu hari datanglah seorang wanita yg sudah agak berumur, yang meminta bantuan Cormoran untuk membantu mencari suaminya yang sudah menghilang selama sepuluh hari.

Sang suami, Owen Quine adalah seorang penulis novel yang beraliran aneh. Sexlit mungkin ya istilahnya? Yang pasti bukunya penuh adegan-adegan sexual yang.. menjijikkan. Sedangkan Leonora Quine, sang istri adalah ibu rumah tangga biasa yang kesehariannya harus merawat putri mereka satu-satunya yang berkebutuhan khusus.. Orlando Quine.

Pencarian Cormoran dalam usahanya menemukan Owen membuatnya bersentuhan dengan karya terakhir dari Owen sebelum Ia menghilang, yaitu Bombyx Mori alias ulat sutra. Sebuah novel yang berisi paradoks dan sindiran-sindiran kepada orang terdekatnya, tak terkecuali kepada istrinya sendiri. Hingga akhirnya Cormoran menemukan mayat Owen di Talgarth Road dengan pose yang sama seperti ending novel yang dia tulis.  Owen terikat duduk di tengah suatu ruangan luas, dengan dikelilingi piring-piring yang seakan-akan berbicara kalau Owen lah menu santap malam mereka. Bedanya, mayat Owen tak lagi utuh. Isi perutnya menghilang, dan mayatnya disiram oleh asam klorida. Bahkan tak hanya mayatnya saja, seluruh ruangan di dalam rumah tempat mayat Owen ditemukan juga ikut disiram dengan asam klorida. Untuk menghilangkan jejak uh?

Dan penyelidikan pun.. dimulai.. Orang-orang yang memiliki akses awal kepada Bombyx Mori kini menjadi tersangka.


Kasus yang lebih serius, dan meningkatnya hubungan antara Cormoran dan Robin adalah dua hal yang menurutku menjadi daya tarik dari novel ini. Eh.. juga karena novel ini bercerita tentang sebuah buku yang membuat sang pengarangnya harus mati dengan cara mengenaskan and semi teaterikal karena mirip dengan ending buku yang ditulisnya.

Pada buku kedua ini, JKR bercerita tentang sebuah dunia penerbitan di London sana. Bagaimana persaingan antar penulis, kehidupan orang-orang penerbitan, hingga kerja seorang editor. Dan juga ada bumbu BDSM di novel ini.. Aww..

Aku sempat bosan saat awal-awal membacanya, bahkan hingga kira-kira halaman 154 aku masih harus menahan diri agar tidak menyerah membaca buku ini.. (Come on.. Ini bukunya JK Rowling gitu loh, tak mungkin seterusnya akan membosankan seperti ini) Dan semua itu terbayar setelah keberadaan Owen menjadi semakin jelas sehingga mendadak buku ini menjadi "page-turner", walau menjelang akhir buku ini menjadi agak membosankan lagi sih.

Kebosanan di awal cerita mungkin disebabkan oleh penggambaran dan pembangunan situasi di sekeliling kehidupan Owen yang terlalu banyak. Tokoh-tokoh yang nantinya akan memiliki peran dalam penyelidikan kematian Owen, digambarkan satu persatu. Siapa itu Michael Fancourt, Elizabeth Tassel, Jerry Waldegrave, Kathryn Kent, Pippa Midgley dan Daniel Chard. Mereka adalah orang-orang yang digambarkan dengan sangat keji dalam Bombyx Mori, sehingga memiliki motif untuk menghabisi Owen.

Penggambaran yang diyakini oleh orang lain di luar mereka yang telah membacanya sebagai sebuah skandal. Contohnya Daniel Chard yang digambarkan sebagai Phallus Impudicus di Bombyx Mori, yaitu seseorang yang membunuh seorang penulis berbakat demi mencuri karyanya dan sering menakuti lingkungan sekelilingnya dengan penyakit kelaminnya.
Lalu apakah yang digambarkan Bombyx Mori mengenai Chard itu benar? Semuanya dijelaskan di buku ini.. Yang pasti berhubungan dengan teman Owen dan Fancourt di masa lalu serta kegemaran Chard melukiskan tubuh pria-pria muda dengan pose telanjang.. Euwwww..

Menarik kan? Dari segi jenis dan kekejaman kasus, buku ini memang lebih menarik dibandingkan dengan The Cuckoo's Calling. Cuman ya itu.. Terlalu bertele-tele di awal.. Jadi ketika Cormoran sudah mulai merangkai analisisnya dengan mencoba mencari benang merah antara isi Bombyx Mori dan kenyataannya, aku sebagai pembaca harus sering-sering membalik halaman ke belakang demi mencari isi dari Bombyx Mori yang aku sudah lupa. Akibatnya.. sesi wawancara antara Cormoran dengan para tersangka jadi sesi yang juga membosankan plus membingungkan.. Belum lagi terkadang disisipi sama kegalauan Cormoran ketika mengenang mantan tunangannya yg mau menikah.. Hoaaammmzzz

Tapi.. tapi.. buat penggemar yang mengharapkan hubungan antara Cormoran dan Robin, mungkin bisa agak tersenyum di sini. Masih sebagai partner kerja sih, tapi mereka jelas lebih akrab.. Ditambah lagi ternyata pernikahan Robin dan Matthew harus diundur. Apakaaaaahh JKR akan membuat Cormoran dan Robin saling jatuh cinta? :D
Jujur saja, setelah kisah cinta Severus Snape yang sangat mellow romantic itu, aku masih berharap JKR membuat kisah cinta lain yang sama dramatisnya :D

Gosipnya, serial Cormoran Strike akan dibuat serial tv nya. Apakah akan sesukses Harry Potter? We'll see :)

Four stars out for this book.

No comments:

Post a Comment