Sunday, December 28, 2014

KOOONG : Kisah Tentang Seekor Perkutut


KOOONG

by. Iwan Simatupang
Paperback, 100 pages
Published by Pustaka Jaya


Pak Sastro tengah diliputi duka, sudah ditinggal mati oleh istrinya yang disapu banjir, kini Pak Sastro harus pula kehilangan Amat, anak satu-satunya yang tertabrak kereta langsir. 

Untuk mengobati kesedihan hatinya, Pak Sastro membeli seekor perkutut. Celakanya, yang dia beli hanya perkutut gule (perkutut yang tak bisa berbubyi kooong). Walau begitu, Pak Sastro terlanjur cinta.

Perkutut tersebut menjadi pelampiasan kesedihan sekaligus penghiburan hatinya. Pak Sastro menjadi lebih semangat bekerja sehingga harta yang dimiliki pun kian bertambah. Penduduk desa menjadi turut berbahagia karenanya.

Namun, suatu hari burung perkutut itu kabur dari sarangnya yang lupa dikunci. Lesulah Pak Sastro, lesu pula seluruh desa atas nama kesetiakawan. Bingunglah Pak Lurah karena penduduk desanya menjadi tidak semangat bekerja. Maka beliaupun mendatangi Pak Sastro untuk menyarankan agar Pak Sastro pergi pelesir sehingga bisa mengobati hatinya yang kembali luka. Pak Sastro pun menuruti saran Pak Lurah, seluruh hartanya baik itu rumah, sawah-sawahnya dan tempat penggilingan padi dititipkannya pada Pak Lurah agar dapat dikelola untuk kemaslahatan desa selama Pak Sastro pergi.

Namun rupanya kepergian perkutut gule tersebut mendatangkan banyak perubahan yang tak cuma terjadi pada Pak Sastro, namun juga seluruh desa. 
Pak Lurah tak pandai bertani, selama ini hidupnya digunakan untuk belajar agar menjadi perangkat desa yang baik. Maka seluruh harta Pak Sastro dititipkannya kepada orang-orang yg beliau percaya untuk dikelola.

Namun orang-orang yang beliau percaya rupanya gelap mata. Sawah-sawah Pak Sastro sudah dianggap milik sendiri, begitupun dengan penggilingan padi. Setoran yang seharusnya mereka berikan pada Pak Lurah semakin hari semakin berkurang. 

Kini sebagian penduduk desa menjadi berpunya. Rumah-rumah dibangun, sekuter terbaik dibeli, radio-radio transistor menyala siang dan malam. Para wanitanya tak tampak lagi kucel, kumel dan berbau matahari.. Mereka semua kini wangi-wangi dengan bedak tebal dan gincu merah menyala. Semua ini karena harta-harta Pak Sastro. Tak jarang para prianya kawin lagi, dan juga berjudi. Hingga akhirnya, seluruh harta Pak Sastro mereka gadaikan demi membayar hutang-hutang judi mereka. Celaka uh? 

Sedangkan Pak Sastro sendiri, masih sibuk dengan pencarian perkutut gulenya. Orang-orang dari desa lain yang melihat Pak Sastro sibuk mencari perkututnya yang gule menimbulkan persepsi sendiri. Menurut mereka, Pak Sastro sudah sinting. Untuk apa sibuk mencari perkutut yang tidak bisa berbunyi sama sekali?

Namun Pak Sastro dengan pencariannya tak pernah ambil pusing dengan anggapan mereka. 

Kenapa mereka anggap dia sinting? Karena dia telah memelihara perkutut yang biasa saja? Adakah semua milik kita di rumah istimewa semua? Takkah ada di antaranya kursi tua yang sudah reot, reotannya bolong di sana-sini? Takkah ada di antara anak-anak kita seorang dua anak yang biasa saja, tak punya keistimewaan apa-apa, di sekolah jadi murid biasa dengan angka rata-rata 5 atau 6? Apakah anak-anak seperti ini harus kita cekik lehernya, kita buang ke WC?
Tidak! Kadang-kadang anak-anak seperti inilah yang kemudian justru jadi tambatan kasih sayang kita, orang tuanya. Kursi tua rotan yang sudah bolong-bolong itu tak tega kita hadiahkan pada tukang loak begitu saja. Sebab di pojok berdebu gudang kita di loteng, dia menyinpan kenangan tertentu pada salah satu kurun waktu hidup kita di masa lalu. (Halaman 31)

Yak.. Begitulah, semakin lama pencarian Pak Sastro terhadap perkutut gulenya, semakin Ia banyak menemukan makna perjalanan hidup.

Sementara di desa, Pak Lurah kebingungan. Ia tak habis pikir jika orang-orang yang dia percaya untuk mengelola harta Pak Sastro malah mengkhianatinya. Pak Lurah pun berniat untuk mencari Pak Sastro dan mengajaknya kembali pulang. Di lain pihak, orang-orang yang telah menggadaikan harta Pak Sastro ini menjadi panik dengan kepergian Pak Lurah. Mereka takut ketika Pak Sastro kembali, hidup mereka akan berubah menjadi sedia kala. Orang-orang yang awalnya bersetiakawanan dengan Pak Sastro, kini berniat mendahului Pak Lurah untuk menemukan Pak Sastro dan membunuhnya. Desa ditinggal hampir seluruh pria yang pergi untuk mencari Pak Sastro.

Setelah kepergian pria-pria tersebit, desa didatangi para penagih hutang untuk mengambil harta-harta Pak Sastro yang sudah mereka gadaikan. Gegerlah desa, tangis wanita dimana-mana.

Lalu bagaimanakah akhir desa dan Pak Sastro? Baca sendiri :p

Menarik ya? Sangat. Buku yang tipis ini memuat banyak pelajaran dan bisa menjadi bahan renungan. Iwan Simatupang lewat sebuah cerita sederhananya berhasil menyisipkan pesan-pesan yang luar biasa. Bagaimana kita harus berbuat terhadap sebuah amanah, bagaimana bertanggung jawab itu, bagaimana jika sifat tamak dan culas menguasai seorang diri manusia.

Aku merasa menemukan sebuah harta karun ketika membaca buku ini. Terima kasih banyak buat orang yang sudah mengenalkan buku Iwan Simatupang ini padaku.

Five stars out...
 

No comments:

Post a Comment