Wednesday, May 28, 2014

Wishful Wednesday #11


Kalau mbak Astrid selaku host meme ini sedang merayakan wishful wednesday nya yang ke 111, akupun tak mau kalah. Ini adalah wishful wednesday ku yang ke 11. Beda dikit kan sama mbak Astrid? Cuma beda angka 1 doank :D.

Sebenernya akhir-akhir ini aku lagi banyak ngidam buku. Dimulai dari trilogi Divergent, Kedai 1002 Mimpi, 1984, sampai The Name of The Rose. Dan alhamdulillah, buku-buku tersebut sudah dalam tahap pemesanan.. tinggal nunggu dikirim saja.

Tapi ada dua buku lagi yang luput dari pemesanan. Ini sangkin banyaknya yang dipengen jadinya malah lupa. Dan dua-duanya buku dari Om YB. Mangunwijaya.. Burung-burung Manyar dan Wastu Citra.



Kedua buku tersebut dicetak ulang dengan cover yang baru. Salah satu motivasi menginginkan buku-bukunya Om YB Mangunwijaya adalah mengenang kembali masa-masa awal aku mulai mengenal sastra Indonesia. Saat itu aku duduk di SMU, Bu Yenny guru Bahasa dan Sastra Indonesia ku mewajibkan setiap muridnya untuk membaca buku-buku sastra.. dan salah satunya adalah buku Burung-burung Manyar ini. Bersama Di Bawah Lindungan Ka'bah nya Hamka, dan Sekayu nya NH Dini buku ini sungguh menawanku.

Sedangkan alasan mengapa aku menginginkan buku Wastu Citra adalah karena rasa penasaranku yang ingin sekali membaca tulisan Om YBM yang berhubungan dengan bentuk bangunan dan sastra. Seperti yang kita semua sudah tahu, om YBM ini adalah seorang arsitek dan juga penulis, dan bagaimanakah dia mengkolaborasikan keduanya tentunya membuat penasaran.

Nah itulah dua buku yang sangat kuidamkan minggu ini, semoga weekend ini, kakiku akan dengan ringan melangkah ke toko buku untuk memnoyong keduanya pulang, yah walaupun buku Wastu Citra itu mahal banget :(

Dan buat kalian yang mau ikutan meme ini, silahkan langsung liat cara-caranya di Perpus Kecil.

Selamat hari Rabu dan selamat bermimpi ^^

PASUNG JIWA : Apa itu kebebasan?


Pasung Jiwa

By. Okky Madasari
Published by Gramedia Pustaka Utama


Namaku Sasa, umm.. dulu Sasana. Pernah jadi mahasiswa selama satu tahun. Dulunya anak dari seorang dokter bedah dan pengacara ternama, tapi entah sekarang, mungkin aku sudah tidak dianggap anak lagi. Pekerjaan.. penyanyi dangdut keliling (baca : ngamen). Kalau Inul punya goyangan ngebor, akupun punya goyangan sendiri, namanya goyang gandrung.

Awal mula aku menyukai musik dangdut itu saat aku menonton pertunjukan dangdut di desa dekat kompleks tempat tinggalku. Saat itu aku baru akan menginjak SMP. Musik dangdut sangat membiusku, ditambah goyangan biduanitanya yang secara tak sadar menyeretku untuk ikut bergoyang. Sebelumnya, aku tak pernah tahu ada musik sedahsyat itu. Hari-hariku dahulu hanya dipenuhi oleh denting suara piano. Aku sudah menjadi seorang pianis di usiaku yang terbilang muda. Bethoven, Chopin dkk semua kulahap dengan mudahnya. Tapi aku tak pernah menikmatinya. Ayah ibuku bisa marah besar kalau tahu aku lebih menyukai dangdut dibandingkan musik klasik. Buat mereka dangdut itu kampungan.

Awal perjalananku menjadi penyanyi dangdut dan menggunakan nama panggung "Sasa" dimulai ketika aku kuliah. Hanya bertahan selama satu tahun, aku yang kuliah jauh dari ayah ibu akhirnya menyerah dan mulai mengikuti panggilan jiwaku. Di saat itu aku bertemu Cak Jek, dari dialah nama Sasa ini bermula.. dan karena dialah hidupku mulai menemukan jalannya. Hingga suatu waktu takdir menyeretku hingga ke dalam penjara dan rumah sakit jiwa.

***

Friday, May 2, 2014

Matilda


Matilda

by. Roald Dahl
Paperback, 264 pages
Published by. Gramedia Pustaka Utama


Awal perkenalanku dengan Matilda bisa dibilang terjadi secara tidak sengaja. Saat itu aku sedang menelusuri discussion thread di Goodreads Indonesia tentang buku-buku feminisme. Ceritanya.. saat itu aku sedang ingin menambah pengetahuanku tentang novel-novel yang bercerita tentang feminisme, karena saat itu aku terpikir untuk menulis mengenai buku-buku kiri dalam suatu event Guest Post yang digagas oleh Blogger Buku Indonesia. Saat itu, aku melihat ada salah satu member dari GRI yang merekomendasikan buku ini sebagai salah satu buku tentang feminisme. Serius Matilda? Yang buku anak-anak karangan Opa Roald Dahl itu? Iyup! 

Pada akhirnya aku memang tidak jadi menulis tentang buku-buku kiri, namun info kalau buku "Matilda" ini berisi tentang feminisme mengulik rasa penasaranku. Pucuk dicinta ulam pun tiba saat Lina bilang ada diskonan dan buku ini hanya dihargai Rp 15000 saja (maaf ya Opa Dahl, klo gak diakonan susah nyari buku ini soalnya..)

Matilda Wormwood adalah anak bungsu di keluarganya. Ayahnya, Mr. Wormwood adalah seorang penjual mobil bekas. Sedangkan ibunya gemar bermain lotre. Dari penampakan luar, Matilda sebenarnya biasa-biasa saja. Penampilan fisiknya layaknya anak umur empat tahun.. tak ada istimewa. Itu kalau kita belum mengenal Matilda yang sesungguhnya. Ternyata, Matilda memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Di umur satu tahun, dia sudah pandai bicara tanpa cadel, di umurnya yang tiga tahun.. dia sudah pandai membaca.. bahkaaann.. di umurnya yang empat tahun tiga bulan, dia sudah melahap karya-karya penulis besar, sebut saja Dickens.