Monday, April 14, 2014

Guest Post : Review Cerpen "Sepasang Sosok yang Menunggu"

Sepasang Sosok yang Menunggu by Norman Erikson Pasaribu

Published by Kompas, 9 September 2012
Illustration by Deden Hendan Durahman

KITA akan selalu seperti ini. Duduk bersandingan sambil berpegangan tangan. Kamu akan selalu menengok dan menatapku ketika tak ada orang. Sementara itu, bunyi ketukan tongkat kayu Jack akan selalu memenuhi tempat ini. Mengalir dari lantai, merambat melalui udara, masuk ke dalam tempat terdalam dari hidup kita.

Jacklah yang membawa kita pada kehidupan seperti ini. Dulu kita tinggal di sebuah tempat yang lembap dan penuh asap, di mana botol minuman berjejer pada lemari. Kamu memiliki banyak teman sementara aku sendirian. Teman-temanmu menghilang bersama pengunjung yang pulang, satu demi satu. Hingga hanya kita berdua tersisa. Seluruh waktu kita hanya dipenuhi kamu yang mengeluh tak bisa melepaskan sepatumu.

“Coba gerakkan jari-jari kakimu kalau begitu,” kataku.

“Tidak bisa.”

“Coba saja dulu.”

“Sudah. Dan tidak bisa. Aku bahkan tak bisa merasakan jari-jari kakiku.”

Dari balik tirai tipis asap, setiap malam kita melihat Jack menari dengan topi dan tongkat kayu hitam. Semua orang tertawa melihat gerakan Jack, termasuk kita. Kadang dia bahkan mengeluarkan merpati dari topinya. Diam-diam kita jadi pengagum rahasia Jack, merekam dia dalam ingatan.

Pertemuan sungguhan kita dengan Jack terjadi pada suatu malam dengan hujan deras. Jack tak henti-hentinya memanggil-manggil dan menggedor-gedor pintu.

Leona, perempuan yang memiliki tempat ini, keluar dari kamarnya di belakang.

“Kaukah itu, Jack?” kata Leona dari balik pintu, “Kenapa kamu kembali ke sini? Aku tak siap dengan apa pun yang melibatkan cinta.”

“Aku baru saja ingat,” pekik Jack, “aku harus mendapatkan dua boneka itu.”

“Anak gadisku berulang tahun hari ini.”

Kita tak pernah paham isi pembicaraan Jack dan kawan-kawannya. Mereka menggunakan bahasa yang tidak kita kenal. Kita mengetahui nama mereka dari kata yang paling sering digunakan orang lain agar mereka menengokkan kepala.

Kita selalu ingat suasana di balik jas hitam Jack ketika dia membawa kita pada malam itu, menembus hujan, entah ke mana. Gelap dan hangat. Aku bisa merasakan dada Jack berdegup. Coba ingatlah kembali, sebuah tempat yang gelap dan hangat di mana kamu bisa mendengar degup dada seseorang.

Jack membawa kita ke sebuah tempat yang nantinya kita sadari sebagai tempat tinggalnya. Kelak, setelah meninggalkan tempat itu kita akan selalu ingat pada bau tengik kucing pada lorong dan suasana ketika Jack menunggu pintu untuk dibukakan. Tubuhnya makin hangat, degup dadanya makin cepat.

Suara pintu berderit.

“Di mana dia?” kata Jack. Kita tersembunyi dengan aman di balik jasnya.

“Sudah tidur. Pelankan suaramu. Dia ketiduran menunggumu,” balas seorang perempuan. “Dia kejang lagi tadi sore.”

“Kamu serius?”

Malam itu kita menginap di sebuah lemari. Besoknya, Jack memasukkan kita ke dalam sebuah kotak. Kita menunggu dalam gelap gulita, lama sekali. Kita mengisi waktu dengan berspekulasi atas apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Kurasa kita akan dikirim dengan kapal,” bisikku.

“Ke Amerika?”

“Semoga.” Kita berdua selalu ingin ke sana, meniru Leona.

Pintu lemari berderit. Seseorang membawa kita. Kita menunggu. Jack dan perempuan di pintu bernyanyi lagu yang tidak pernah kita dengar. “Selamat ulang tahun, Mary,” bisik si perempuan setelah lagu usai. Kita bisa merasakan Jack meraih kita dan menyerahkan kita kepada seseorang.

Kertas kado dirobek. Tutup kotak dibuka. Wajah seorang gadis dengan cengiran lebar tampil di hadapan kita. Kita berada di sebuah ruangan sempit dengan meja di tengah-tengahnya, dengan sebuah kue bundar di tengah-tengah meja. Semenjak itu, kita resmi dimiliki seseorang.

Gadis kecil itu bernama Mary. Meski masih kanak-kanak, dia bisa mengajari kita melakukan banyak hal, seperti makan malam formal, minum teh atau kopi, berciuman, dan berpegangan tangan. Tetapi Mary tak pernah mengajak kita bicara. Di sela-sela suara sayup klakson mobil, senandung Jane—Ibu Mary—ketika memasak, benda jatuh, kicau burung dalam sangkar, hanya terdapat keheningan. Kehidupan Mary tampak seperti gambar berwarna, namun tanpa suara dalam buku-buku cerita miliknya. Tetapi itu bukan masalah. Bahasalah masalah. Aku ingat kamu pernah mengatakan bahwa kata-kata sering kali gagal saat kamu mencoba mengungkapkan perasaanmu kepadaku. Dengan Mary, kita bisa membagi perasaan tanpa berkata-kata. Aku, kau, dan Mary telah mengalahkan kata-kata.

Di awal kita mengenalnya, Mary pernah mencoba melepaskan sepatumu. Dia gagal melakukannya. Kaki dan sepatumu pastilah direkat dengan lem paling ajaib di dunia.

Jack menghampiri Mary. “Ada apa, Sayang? Ada apa dengan bonekamu?”

Mary menyodorkanmu.

“Kamu ingin melepas sepatunya? Sayang sekali, kita tak bisa melakukannya.”

Kita berdua hanya bisa terus menunggu. Kamu tampak sangat berharap. Jack malah kembali ke dapur. Kita menjadi sangat kesal. Kenapa dia pergi, bahkan tanpa mencoba? Kita kecewa melihat sikapnya. Kamu menangis sepanjang malam. Benda hitam itu terasa tak nyaman di kakimu. Padahal semua orang berhak atas sepatu yang nyaman. Aku sendiri tak bersepatu, namun tak terganggu dengan kenyataan itu. Kamu terus saja murung. Semenjak itu, aku dan Mary sama-sama mengerti bahwa pembicaraan mengenai sepatu adalah tabu.

Suatu malam Mary pergi. Kita melihat sosok berbaju putih dan bersayap menggandeng tangannya. Mereka meluncur ke atas, menembus langit-langit. Apakah orang itu menculik Mary? Entahlah, kita tidak yakin. Kita mulai menghitung. Satu, dua, tiga… Mary sudah tak kembali dalam seminggu. Anehnya, Jack tak pernah mencarinya. Dia justru menangis tak henti-henti. Aku makin kecewa dengan Jack. Setelah sepatu, kini Mary. Berhentilah menghindar. Hadapilah. Inilah hidup. Kita pun meneriaki Jack: Cari dia, seseorang telah menculiknya! Namun dia tak menghiraukan kita. Jack dan Jane hanya menangis, entah mengapa, dan untuk apa. Apa yang terjadi, Jack? Mengapa kamu menangis? Mengapa hanya menangis?

Jack berubah. Kini dia sering pulang larut, dalam keadaan mabuk, dan akhirnya mengamuk. Dia akan menghancurkan barang-barang di meja. Gelas-gelas, piring-piring, botol bir yang dibawanya, adalah korban kemarahan Jack. Sementara Jane mengurung diri di kamarnya. Suatu kali dia melempar gelas, dan mengenai kita. Dia menghampiri kita lalu kembali menangis.

some_text

“Maafkan aku, maafkan aku.”

“Mary, oh Mary, Papa telah melukai boneka kesayanganmu.”

Besok malamnya Jack membawa kita dan Jane ke sebuah restoran. Jalanan dipenuhi salju dan pendar lampu. Kita ingat Mary pernah mengajari kita makan malam dan tata caranya. Kita duduk tegak di antara Jack dan Jane, bersandar pada vas bunga.

“Jane, aku ingin membuat toko boneka.”

Jane berhenti mengunyah dan menatap Jack. “Toko boneka? Untuk apa?”

“Untuk Mary, Jane, untuk Mary….”

Jane hanya tersenyum dengan mata berair. Beberapa minggu kemudian kita pindah, ke kehidupan kita ini.

Di sini kita memiliki banyak teman. Beruang, anjing, juga kelinci gemuk. Jack menjejerkan kita semua di lemari. Tetapi kamu tak menemukan mereka yang sama sepertimu, begitu pun aku. Kamu menunggu dan terus menunggu. Aku telah seumur hidup menunggu. Kamu kesepian dan butuh teman yang sepadan. Setiap malam, ketika yang lain berpesta, kamu menyendiri di depan kaca raksasa, menatap bulan, sementara aku berdiri di depan cermin, menatap diriku sendiri.

Suatu hari seorang gadis dan perempuan yang kita kira adalah ibunya datang ke tempat ini. Dia membawa selebaran yang bergambar seseorang yang sepertimu!

“Maaf, gadis kecil, kami tidak menjual Barbie,” kata Jack, setelah melihat selebaran itu.

“Lalu apa itu,” kata ibu si gadis, menunjuk kepadamu. Aku bisa merasakan kamu terlonjak di tempatmu. Mungkin sudah waktunya kamu mendapatkan Mary lain. Entah mengapa aku mendadak merasa sedih.

“Itu beda, Madam. Namanya Lilli. Bild Lilli. Model lama. Mungkin Anda pernah dengar.”

“Tak masalah. Kami mau Lilli itu.”

“Itu tidak dijual.”

“Kenapa?”

“Itu milik anak saya.”

“Lalu, mengapa ditaruh di lemari, kalau begitu? Berapa umur anak Anda sekarang?”

Kamu sangat bersemangat tetapi ternyata mereka tak membawamu hari itu. Tidak juga besok. Atau lusa. Kamu kembali sedih. Apa tidak ada yang menginginkanku, rintihmu, aku rindu Mary. Aku rindu Mary. Andai saja dia ada di sini.

Aku juga, pikirku. Andai saja dia ada di sini.

Kita berusaha melupakan kejadian itu dan melanjutkan hidup kita. Seiring waktu, Jack mulai sering menggunakan tongkat, kemudian berakhir setiap saat. Tetapi dia tidak lagi menari dan mengeluarkan merpati dari dalam topi. Dia hanya berjalan tertatih-tatih dari satu sisi ke sisi lain tempat ini, memegang sapu debu, membersihkan kita dan semua teman-teman kita. Rambutnya memutih, tubuhnya membungkuk. Jane mengunjunginya setiap rehat siang. Kadang mereka mengajak kita berdua makan bersama di ruangan belakang. Mereka makan sambil tertawa-tawa dan saling berkata, aku mencintaimu, sangat mencintaimu—kebiasaan yang akhirnya menular kepada kita.

Pada sebuah musim dingin, Jane mulai jarang membawakan makan siang dan akhirnya tak pernah terlihat lagi.

Hal itu membuatku sangat sedih. Kita ada di sana, menjadi penggemar rahasia Jack, merekam seluruh kehidupannya, tetapi sesungguhnya tak tahu apa yang sedang terjadi.

“Kurasa Jane sudah kembali bersama dengan Mary,” bisikmu di telingaku, seolah tahu apa yang kupikirkan. Kata-katamu itu membuatku tenang.

Kini kita memiliki kehidupan yang lebih ceria dengan Jack. Dia tak pernah lupa mengunjungi tempat ini yang dia ubah namanya menjadi “Toko Mainan Mary & Jane”. Dia memindahkan kita ke hadapan kaca raksasa, seolah tahu keinginan kita. Kita melihat matahari terbit dan terbenam, orang-orang lalu lalang, juga bintang-bintang. Suara benturan tongkat Jack pada lantai memenuhi hidup kita. Dia bahkan mulai mengajak kita bicara.

“Sebentar lagi aku akan pergi, menyusul Jane dan Mary.”

“Semoga kita bertemu di kehidupan selanjutnya ya.”

Kemudian Jack mencium masing-masing kita, untuk pertama kali. Dia tampak sangat bahagia. Pastilah dia baru saja mengatakan sesuatu yang menyenangkan hatinya.

Kita terharu. Semenjak itu setiap sore, tepat setelah Jack membereskan tempat ini dan pergi, kita mulai menunggunya datang kembali.

Selama ini, Jack tak memahami kita dan kita tak memahami dia. Tetapi di antara aku, kau, dan Jack, selalu ada “Kita”.

“Aku kasihan pada toko ini,” kata seorang lelaki sayup-sayup, suaranya masuk melalui sela-sela pintu. Malam ini, hanya terlihat tiga bintang.

“Kenapa?”

“Pemiliknya baru meninggal, pagi tadi.”

“Hah? Kamu serius?”

“Ya. Dalam tidur. Ditemukan tukang susu yang curiga.”

“Wah, kasihan….”

“Iya, kasihan….”

“Hei, coba lihat dua boneka di etalase.”

“Boneka Barbie dan babi itu?”

“Yep. Mereka seperti sedang menanti seseorang.”




Image

I seldom read a short-story, because I'm the one when I like a story, I would like to read more pages of it. Sometimes I get mad of books which are supposed to be more beautifully written if the writer adds more pages and explores the characters or soever. I still feel the same way about "Sepasang Sosok yang Menunggu", but with some additions.

I have ever heard a quote, “Karya yang dihargai adalah karya yang memiliki komentar, entah itu komentar positif atau negatif”. So, I would like to comment on this short-story, but you’ll find that my comment are more subjective, random, and based on my feelings about the content of the story.

I like the way Norman tells the story. Tidak terlalu bersastra atau dibuat-buat, tidak terlalu sederhana, dan juga tidak sulit untuk dimengerti. Kalau mau meminjam istilah saya dalam satu tahun ini mereview buku, pemilihan kalimat yang digunakan Norman adalah apa adanya. Seolah-olah kata-kata itu ringan saja dikeluarkan, seperti mendengarkan seseorang bercerita langsung, bukan membaca sebuah karya yang pasti butuh waktu untuk menyusunnya. Pemilihan karakter ‘kita’, ‘kamu’, dan ‘dia’ membuat saya jatuh cinta dan ingin mendengar kelanjutan kisah ‘kita’.

I read the first line, and all I was thinking is this story tells about a pair of lovers. I admit when I read the third sentence, (-"Kamu akan selalu menengok dan menatapku ketika tak ada orang"-), I burst into a little smile, because I think that is the exact way of two persons who like each other express their hidden feelings. You know, when we are in junior high school or older, and we like someone in our class, we tend to steal a look of him/her when we think somebody else doesn't know. I kept reading the story of "us" (which was I knew when I read the last paragraph what exactly the word "us" refers to), but with more and more words that I read, I didn't think "us" as the same way I read it previously. I doubt that they love each other.

The intention of the story is more about finding something or someone. That is the part of this story that makes me questioning and a little mad of. What or who are they waiting for? The story is too melancholic, which kinda seems like forced to bring a blue feeling. Di paksa untuk menghidupkan suasana prihatin, sedih, dan melankolis. Padahal, sebenarnya tidak perlu seperti itu. Not to rationalise the whole story, but I really don’t have any idea about why “us” feel a little bit so sad about their life. I thought they love Jack’s life. They love Mary. They have each other. So, what’s else do they want? Who else are they waiting for?

I understand the loneliness of Lilli, as a barbie doll who usually be a love-object of people, yang seharusnya dipuja karena kecantikannya, tetapi berakhir ‘hanya’ menjadi pajangan tak berarti bagi orang lain di sebuah toko boneka bersama sebuah boneka babi. I understand how Lilli wants to move on and find a new life, being with someone like her, a barbie doll, or someone like Mary, who cares about her. But she forgets one thing. She has someone beside her. Why do she just be grateful for what she has? Apalagi, tokoh yang menjadi ‘aku’ di sini sepertinya sangat menyayangi Lilli. That should be a happy ending of this story. Another ending.

I think about the main focus of the story, too. Apakah kehidupan Jack? Apakah kesedihan Lilli? Atau sudut pandang ‘Aku’? The biggest probability is the last one, since ‘Aku’ leads the most part of the story, dan ide ceritanya adalah apa yang ditangkap oleh tokoh ‘Aku’.

Saya pernah membaca sebuah buku, berjudul “The Fault in Our Stars”, dan yang paling saya ingat adalah kata pengantar dari penulisnya, yang berkata, ‘Baik novel maupun pembacanya tidak akan memetik manfaat dari upaya menebak apakah ada fakta-fakta tersembunyi dalam sebuah cerita. Upaya semacam ini menentang gagasan bahwa cerita khayalan juga bisa bermakna'. Selagi saya memikirkan pendapat saya mengenai cerpen “Sepasang Sosok yang Menunggu”, saya bertanya-tanya apakah ada suatu fakta sosial yang coba diungkapkan penulis lewat cerita ini.

Saya berfikir tentang apa maksud yang ingin diungkapkan si penulis. Meskipun saya sadar, tak selalu sebuah cerita punya makna tertentu. And honestly, I can catch some wisdom of this story by reversing it like I said about Lilli before. Being a melancholic doesn’t always demand you to be sad and lonely.

Saya paling suka dialog yang keras dan menusuk. You know, when you are full of emotion, and you burst out your feeling by yelling at someone. I usually like that kind of words. The other words that I like from a story is the words that can make me stop reading, and repeat the same line. Or, the words that just completely desribe me.

Dia justru menangis tak henti-henti. Aku makin kecewa dengan Jack. Setelah sepatu, kini Mary. Berhentilah menghindar. Hadapilah. Inilah hidup.


Aku ingat kamu pernah mengatakan bahwa kata-kata sering kali gagal saat kamu mencoba mengungkapkan perasaanmu kepadaku.


Tetapi kamu tak menemukan mereka yang sama sepertimu.

Last, I hardly decide if this story needs extra page or not. I’m curious about what happened to ‘us’ next, but the extra story will never be the same as Jack and his life have gone, don’t you think?




Untitled22
ImageImageImage
Sekilas tentang reviewer :


Fenny Herawati, 22 tahun, tinggal di Bekasi. 
Bergabung dengan BBI sejak November 2012. Hobinya membaca tetapi belum kepikiran sama sekali untuk jadi penulis. Termasuk salah satu penimbun buku, meskipun lebih senang jika dibilang kolektor buku. Kegalauannya yang terbesar saat ini adalah mau membawa pulang buku yang mana untuk menambah timbunan (biasanya sambil mondar-mandir kayak setrikaan di depan toko buku). Selain buku, hasrat terbesarnya adalah makanan.
Sedikit bincang-bincang dengan reviewer :

Pertama-pertama ceritain donk awal mula kamu bisankenal dengan dunia buku dan dunia membaca?
Aku memang dari dulu sudah suka baca, sekitar umur berapa aku lupa, tapi sejak kecil suka banget baca buku apa aja. Dulu mama suka beliin buku babon (kumpulan soal-soal) dan aku suka banget baca soal-soal itu (makanya dulu pinter), selain itu juga mulai kenalnsama Goosebumps dan buku cerita horror lainnya. Kan dulu ada kan, buku horror Jepang gitu.. entah kenapa suka banget sama yang begituan.
Haha.. emangnya sekarang udah ga pinter? :p Mama dan papa memangnya suka baca ya?
Enggak juga. Dulu kenal bukunya ga fanatik dan sampe jadi penimbun, sih.. Alasannya karena menurutku buang uang aja (sekarang keadaan ekonomi keluarga jauh lebih baik). Jadi dulu aku paling beli buku cuma sekitar 2-3 kali pertahun, dan biasanya novel yang aku punya aku baca ulang berkali-kali. Seringnya sambil makan. Dan juga sempet vakum.
Mulai kapan dan Kenapa vakum?
Kayaknya semenjak SMA sampai awal 
kuliah aku bisa dibilang ga pernah beli buku. Alasannya ya karena dulu mikirnya beli buku itu boros, mending uangnya dibuat makan aja gitu. Pas pertengahan masa kuliah inilah, aku ketemu sama seseorang yang membangkitkan semangatku buat lebih banyak kenal buku..  *uhuk-uhuk*
Dan karena kondisi keuangan sekarang lumayan mendukung sih. Sekarang uang jajan bisa dibeliin buku kalo ga beli yang lain-lain (ya iyalah..)
Someone nya anak BBI bukan? #lah :)) Total udah punya brp buku sekarang?
Bukaaan. Aku aja lupa gimana bisa kenal BBI. Tapi seingetku karena aku pisahan sama seseorang ini yang membuat aku jadi kenal & masuk ke BBI. Biar punya temen lain yang sejiwa. Total buku sekarang membengkak, dulu cuma punya belasan yang lusuh, sekarang ada...600-700, mungkin? *ga ngedata* Dalam waktu kurang-lebih 3 tahun.
Wow.. Itu kebanyakan buku2nya genrenya apa? Trus punya buku favorit ga?
Kebanyakan fantasi, YA, contemporary romance, 90% fiksi dan 95% dari fiksi itu merupakan fiksi terjemahan (statistik menurut perkiraan).
Buku favoritnya banyaaak, tergantung kriterianya dulu nih.. Favorit karena ceritanya bagus mengalir, favorit karena quotesnya banyak yang bagus, favorit karena bisa membuatku melakukan sesuatu sehabis membaca buku itu, atau belum lagi favorit menurut genrenya masing-masing. Jadi selalu bingung kalo disuruh favorit gitu.. Atau pas mau merekomendasikan sebuah buku tanpa sesuatu spesifik yang dicari, karena tiap buku menurutku unik & bagus dengan caranya sendiri.
Klo buku dengan kenangan punya ga yg dijadiin favorit? Misal hadiah dr si someone itu? :p
Ada, eh tapi itu nanti dijadiin Guest Post aja deh.. Btw ini someone sebenernya bukan orang yang disuka atau gimana, beneran temen akrab dulunya, eh kebetulan punya kisah menarik ama dia yang berhubungan ama buku.. Hehehe..
Cowok kan tapinya? :p #kepo btw.. Selama ini selain meja makan, ada gak tempat lain yg menurut kamu sangat nyaman buat membaca? Misal suatu perpustakaan atau taman gt?
Fenny : Tempat tidur?
Haha.. Ga pernah baca di tempat umum ya? Atau ga bisa?
Angkot, ditengah-tengah pusat perbelanjaan.. Ada sensasi sendiri aja kalo pas mama belanja aku nunggu duduk ditempat sepatu dan baca sementara orang-orang disekeliling itu seliweran. Di tempat makan pinggir jalan kadang suka cuek juga baca dan nunda makan ampe beberapa  menit.
Paling enggak, aku batasin nggak baca kalo ada temen. Soalnya menurutku agak nggak sopan aja, ada temen tapi malah sibuk sendiri.
Trus pernah ada konflik dengan seseorang ga gara2 buku?
Konflik karena buku kayanya ga pernah..
Jd selama ini nyokap ga pernah ada masalah ya dengan hobby baca dan belanja buku ini?
Paling dalam tahap wajar aja, sesekali ngedumel. 
Trus pernah ga kepikiran kalau suatu saat kamu bakal berhenti membaca? Klo pernah karena apa?
Berhenti sih nggak, kalau vakum iya mungkin. Ketika dunia nyata is sweeter than fiction. Hahaha.
Kemudian klo kamu harus bawa 5 benda buat pergi meninggalkan negara ini dan harus mengungsi di suatu tempat, buku itu urutan keberapa yg bakal dibawa?
Al Qur'an itu termasuk buku kan ya? Kalau begitu, di urutan pertama, soalnya sejak kuliah aku selalu bawa mushaf Al Qur'an, kayak buat pelindung aja.
Okay.. Yang terakhir ni.. Apasih harapan2 kamu dari komunitas BBI ini di usianya yg sudah 3 tahun?
Makin keren dan dikenal di dunia perbukuan biar bisa memberikan pengaruh. Pengaruh ke harga buku, juga ke buku-buku terjemahan, hahaha. Itu aja sih kayaknya 


Submitted for :


7 comments:

  1. Reviewnya bagus, Salam kenal ya

    ReplyDelete
  2. Fenny, kisah nyata gak akan lebih manis dari fiksi #sinis #eh
    Anyway, setuju, cerita itu tidak perlu dimengerti. Cukup dibaca dan dinikmati. Seperti saat menyesap green tea, gak perlu ngerti apa-apa, nikmati aja enaknya :P

    ReplyDelete
  3. Jadi, semua itu memang ada masanya ya. Masa bosan dan masa semangat. Mood baca itu fluktuatif, rupanya nggak dialami satu dua orang aja. Semoga mood vakumnya ga kelamaan :)

    ReplyDelete
  4. ohhh jadi buku yg fenny review di sini ada sejarahnya juga ya ternyata (baru ngeh setelah baca interviewnya) hihihi...

    ReplyDelete
  5. Paling susah buat review cerpen, seringkali kisahnya cukup diselami tanpa bisa ditambahkan hal-hal lain. Apalagi jika ceritanya absurb, tambah pusing deh nulisnya, but I like story like that *aneh ya*

    ReplyDelete
  6. wow, bukunya banyak banget :)
    waktu ketemu dulu aku salut deh sama mamanya Fenny, setia menemani putrinya kemana aja :D

    ReplyDelete
  7. 600-700 and still counting... raknya Fenny seberapa ya? *kepo

    ReplyDelete