Monday, March 24, 2014

Kapan nikah? Kapan punya anak?


Memoir of a So-Called Mom

By. Poppy D. Chusfani
152 pages, paperback
Published by Gramedia Pustaka Utama
March, 2014



Amelia adalah seorang anak bungsu dari enam (atau lima ya? Aku lupa) bersaudara. Kehidupan menyenangkan sebagai anak bungsu sewaktu kecil, ternyata tak berimbas ketika remaja. Dimulai jadi pesuruh kakak-kakaknya, hingga cap anak bungsu yang selalu mendapat keistimewaan dari keluarga telah Ia rasakan.

Namun persoalan dimulai ketika dia beranjak dewasa. Kerabat dari orang tuanya mulai menjodohkannya dengan orang-orang yang mereka anggap mapan, tampan, berwawasan dan pantas untuk Amelia. Keberadaan Baron yang kala itu menjadi kekasihnya tak mereka anggap. Tapi toh akhirnya Amelia tak memperdulikan mereka dan pada akhirnya tetap menikah dengan Baron.

Namun ke-sotoy-an para kerabatnya tak berhenti sampai di situ. Mereka masih saja sering berkomentar tentang jalan hidup yang diambil oleh Amelia. Bagaimana pilihan Amelia untuk tidak bekerja, sampai bagaimana metode Amelia dalam mengasuh anak perempuan semata wayangnya Anika. Semua itu tidak lepas dari penilaian mereka. Jenuh? Tentu.. sebal? Sangat.. 
Tak jarang Amelia merasa dirinya adalah ibu yang gagal jika patokannya adalah standar kerabat-kerabatnya tersebut.


Namun lama kelamaan, Amelia mulai dapat mengikuti alur yang diciptakan keluarga-keluarganya. Jawaban-jawaban yang dia berikan pun cerdas. Pada akhirnya, Amelia menyadari kalau kebahagiaan keluarganya bukan terletak pada apa kata kerabat-kerabatnya, namun pada apa yang dirasakan oleh dirinya, suaminya dan juga putrinya Anika.

***

Fiuh..

Membaca buku ini menimbulkan aroma dejavu pake banget. Sebagian besar yang Amelia alami di sini juga pernah aku alami. Kecuali suka duka jadi anak bungsu (jadi anak sulung itu lebih berat loh mbak daripada anak bungsu). Dari mulai tuntutan segera menikah (padahal waktu itu aku baru umur 24 tahun.. Ya Tuhan.. ckckckc) sampai dengan pertanyaan.. kapan punya anak? Kok belum hamil juga? (Padahal itu juga baru tujuh bulan menikah.. oh my God) sampai akhirnya, ketika aku hamil Hermy.. aku sudah girang karena aku tak akan menerima pertanyaan.. "Kapan kasih adik untuk Os?" Eh ternyata malah dibilang gini.. "ya ampun udah hamil lagi, anak pertama aja baru satu tahun. Gak kasihan apa masih kecil sudah punya adik?"

Oh.. tidaaaaaak....

Rasa-rasanya udah pengen kujahit itu mulut orang-orang yang comelnya setengah mati itu.. hahahah.. makanya deh, aku bertekad gak akan ikutan comel kalau udah tua nanti. Hehehe

Balik ke buku ini. Buku ini sangat tipis, hanya 152 halaman. Ditulis full narasi dengan POV orang pertama. Jadi rasa-rasanya seperti membaca buku harian saja. Kalau lihat dari biografi singkatnya mbak Poppy yang ternyata juga hanya memiliki satu orang anak sama halnya dengan Amelia, sepertinya buku ini terinspirasi dari cerita hidupnya sendiri. 

Namun walau buku ini ditulis dengan full narasi, buku ini sama sekali tidak membosankan. Mbak Poppy dengan ciamiknya berhasil merangkai kata demi katanya menjadi sebuah cerita yang mengalir. Buku ini mengajarkan banyak tentang kita tanpa merasa sudah digurui. Kekurangannya cuma satu.. KURANG TEBAL. Empat bintang untuk buku ini :)


2 comments:

  1. Aku uda lama pengen buku ini secara fansnya mba Poppy. Tapi pas liat tipisnya, kok jadi sayang ya mau beli. Mending beli novel tebal sekalian aja #plak *fans gagal*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa tipis banget. Mungkin karena memoir sih ya.. Klo dijadiin novel trus agak dilebay2in konfliknya mungkin jd agak tebalan. Aku jg fans nya mbak Poppy semenjak baca orang-orang tanah.

      Delete