Thursday, January 30, 2014

Senyum Karyamin


Senyum Karyamin

by. Ahmad Tohari
Paperback, 88 pages
Published by Gramedia Pustaka Utama


Senyum Karyamin ini adalah buku pertama dari dua buku yang kudapatkan dari event BBI Secret Santa.

Untuk seseorang yang sudah mengirimkan buku ini kepadaku, thank you so much. Aku adalah penggemar karya-karya Ahmad Tohari. Dan rasanya sangat menyenangkan sekali ketika tahu klo Santa mengirimkan buku ini.

Aku gak tahu, apa pertimbangan Santa ketika memilihkan buku ini.. mungkinkah karena santa sudah mencari tahu buku-buku apa yang menjadi favorite ku? Ataukah Santa tahu kalau buku ini memang bagus lantas menginginkan aku juga membacanya? Atau mungkin tidak ada alasan apapun dan hanya insting yang menuntun Santa memilih buku ini? Apapun sebabnya, sekali lagi aku mengucapkan terima kasih banyak.. jikalau Santa memilih buku ini berdasarkan insting, aku yakin mungkin ada koneksi tak terlihat antara hati santa dan hatiku.. #ceileeh :))



Buku Senyum Karyamin ini merupakan buku antologi. Berisi kumpulan-kumpulan cerita pendek Ahmad Tohari yang dikumpulkan oleh Maman S. Mahayana. Buku ini berisi 13 cerita pendek, yaitu

1. Senyum Karyamin
2. Jasa-jasa buat Sanwirya
3. Si Inem Beranak Bayi
4. Surabanglus
5. Tinggal Matanya Berkedip-kedip
6. Ah, Jakarta
7. Blokeng
8. Syukuran Sutabawor
9. Rumah yang Terang
10. Kenthus
11. Orang-orang Seberang Kali
12. Wangon Jatilawang
13. Pengemis dan Shalawat Badar

Buku ini masih sama seperti buku Ahmad Tohari lainnya, berisikan sebuah karya dengan gaya bahasa yang lugas, jernih dan juga sederhana, di samping itu kuatnya ironi dan metafora.

Ahmad Tohari tak pernah mengambil tema-tema yang rumit dalam karyanya. Selalu dan selalu bersetting pedesaan yang indah dan kehidupan masyarakatnya. Di dalamnya Ia tuangkan sentilan-sentilan terhadap hal-hal yang dianggap biasa oleh masyarakat.

Soal lingkungan hidup yang jarang dijamah oleh pengarang Indonesia justru menjadi salah satu daya pikat karya-karyanya. Diceritakan dengan detail namun tak terasa membosankan karena diksinya yang indah. Dunia pedesaan yang kumuh, lugu, telanjang, bodoh dan alami ternyata masih tetap menjanjikan kedamaian yang tulus dan tanpa pamrih di tangan Ahmad Tohari. Inilah salah satu daya pikat dari karya-karyanya.

Dan kekuatan latar itu terasa sangat pas karena yang tampil sebagai tokoh sentralnya adalah warga desa dari kalangan wong cilik. Ia seolah-olah mewakili teriakan rakyat kecil atau masyarakat yang miskin dan bodoh.

Ada Karyamin dengan senyum kelaparannya yang dipaksa menyumbang untuk orang-orang yang kelaparan nun jauh di sana. Hal ini seakan-akan menyentil perilaku masyarakat yang lebih peduli kondisi orang-orang yg menderita tapi jauh dari jangkauan daripada tetangganya sendiri. Atau ada Minem yang diusianya yang sangat muda namun harus menikah dan melahirkan bayi. Hal ini juga masih terjadi di kalangan masyarakat Indonesia terutama di pedesaan yang menganggap anak wanita adalah "komoditi dagangan". Semakin cepat mereka kawin, semakin banggalah kedua orang tuanya karena artinya anaknya laku, walaupun laki-laki yang menikahi anaknya mungkin sama melaratnya atau sama bodohnya dengan mereka. Pokoknya yang penting laku! Dan masih banyak lagi nilai-nilai moral Yang bisa kita peroleh dari karya-karyanya.

Buku-buku Ahmad Tohari selalu bisa membuatku kembali menyentuh bumi setelah diterbangkan oleh khayalan cerita fantasi atau kisah romansa yang menyentuh hati..

Rate : 4/5

Submitted for :








2 comments: