Tuesday, January 28, 2014

Assalamualaikum, Beijing!

Assalamualaikum, Beijing!

By. Asma Nadia
Paperback, 356 pages
Published by Noura Books





Sudah tinggal dua bulan lagi pernikahanku dengan Dewa akan digelar, hingga hari ini dia membawaku kembali ke sebuah halte tempat kami pertama kali bertemu dulu dan mengatakan tentang pengkhianatannya.

Dewa sudah berkhianat, pernikahanku berantakan. Undangan yang sedianya sudah siap untuk disebar kini teronggok di tempat sampah.

Dan rupanya Tuhan belum cukup dengan memberikan cobaan hati tersebut. Aku divonis terkena APS atau Antiphospholipid Syndrome primer. Penyakit yang menyebabkan darahku terlalu cepat mengental. Efeknya? Serangan stroke, serangan jantung, buta atau tuli tiba-tiba.

Masih adakah kisah cinta untukku? Lalu apalagi yang layak kuperjuangkan lagi dalam hidupku ini?




Senyum mama.. dan Zhongwen


Review :

Alasan pertama kali aku gembira ketika mengetahui kalau Asma Nadia mengeluarkan novel lagi adalah perasaan seperti kembali ke zaman-zaman SMU.

Aku bersekolah di salah satu SMK di Bogor. Tempat favoritku dulu bukanlah toko buku gramedia, walaupun di dekat sekolahku ada toko buku tersebut. Tapi toko buku kecil yang bernama al amin. Toko buku ini berdempetan dengan terminal baranangsiang.

Toko buku Al Amin ini tidak hanya menjual novel-novel islami, tapi juga al qur'an, tasbih, sticker, gantungan kunci, kaset nasyid kaus kaki, bros hingga kerudung. Pokoknya yang berbau islami ada deh di sana.

Dan dari toko buku kecil inilah aku mulai mengenal buku-buku Salim A. Fillah, Helvy Tiana Rosa, Pipiet Senja, Fauzil Adhim dan tentu saja juga buku-buku Asma Nadia.

Bersekolah di lingkungan yang religius (mentoring seminggu sekali dan liqo 2x seminggu) membuat lingkup bacaanku hanya berkisar yang berbau islami. Termasuk novel-novelnya.

Makanya ketika sekarang lingkup bacaan novelku sudah luas bahkan menyentuh adult novel segala, membaca novel Asma Nadia ini terasa bagaikan seteguk air dingin di tengah cuaca yang terik.

Novel ini sarat sekali dengan nilai-nilai hidup seorang muslim. Bagaimana seharusnya seorang muslim bersikap dengan yang bukan mahram nya hingga bagaimana seharusnya seorang muslim menghadapi setiap cobaan yang sedang menimpanya.

Tema buku ini sih klise banget, cuma hal-hal di atas itu yang bisa menjadikan buku ini menjadi lebih istimewa. Pelajaran hidup dan nasehat-nasehat yang diutarakan dengan baik tanpa maksud menggurui.

Rasanya kangen sekali membaca novel-novel religi seperti ini lagi..


Jalan menuju kota-Mu
Tak melulu penuh keriangan
Sesekali berbatu dan udara membeku


Rate 3/5

Submitted for :






No comments:

Post a Comment