Tuesday, December 10, 2013

Entrok


Entrok

by. Okky madasari
Paperback, 282 pages
Published April 5th 2010 by. Gramedia Pustaka Utama


Ini Entrok..

Entrok adalah beha..


***

Beberapa orang temanku menyebutkan dalam reviewnya kalau tema buku ini adalah Uang! Tapi aku tidak setuju dengan mereka. Sama seperti buku Ronggeng Dukuh Paruk yang seringkali dinilai hanya berdasarkan kisah romansa antara Rasus dan Srintil, aku juga tidak rela kalau buku ini dinilai sedangkal itu. Buku ini bercerita tentang feminisme, sosial politik, dan yang paling penting.. Buku ini bercerita dengan gamblang bagaimana teror negara terhadap rakyat kecil di masa-masa orde baru. Kalian menurut atau kami cap sebagai PKI!
Adalah Sumarni, seorang remaja baru gede yang sangat menginginkan Entrok untuk menyangga payudaranya yang mulai tumbuh. Pada masa itu, entrok bisa dikatakan pakaiannya orang-orang kaya. Orang-orang seperti Sumarni dan ibunya tidak akan sanggup membelinya. Ibunya terbiasa menggunakan kemben untuk menggantikan fungsi entrok, namun Sumarni tidak mau. Sumarni ingin entrok, entrok seperti yang dipakai oleh Tinah sepupunya.

Dengan diawali keinginannya menggunakan Entrok, berangkatlah Sumarni menjadi seorang wanita yang berkemauan kuat dan pekerja keras. Dia memulai "karier" nya menjadi kuli di Pasar. Dikumpulkanlah sekeping demi sekeping receh demi membeli entrok idaman. Tak dinyana, tabungannya cepat terkumpul. Uangnya bahkan berlebih kalau hanya untuk membeli sebuah entrok saja. Dia memutuskan untuk menggunakannya sebagai modal berjualan keliling desa, hingga tak lama usahanya pun berkembang dan perlahan-lahan Ia menjadi orang kaya. Dari berjualan sayur-sayuran berkeliling kampung, usahanya merambah pada pengkreditan panci, wajan dan kawan-kawannya hingga kemudian Ia juga membungakan uang yang dipinjamkan pada tetangganya. Sumarni kaya raya.. tanahnya berhektar-hektar.. Bahkan pejabat negara yang katanya seorang priyayi pun tak sekaya Sumarni. Ia punya televisi, cuma Pak Lurah di desa tersebut yang memiliki televisi selain Sumarni.

Suami Sumarni adalah Teja. Teja adalah pemuda yang menemaninya menjadi kuli untuk pertama kalinya di pasar. Dari pernikahannya dengan Teja, lahirlah seorang putri yang bernama Rahayu. Sumarni yang buta huruf, Sumarni yang lahir dan besar dengan kondisi yang kekurangan bertekad untuk memberikan yang terbaik kepada Rahayu putrinya.

Rahayu hidup berkecukupan dan berpendidikan. Sumarni menyekolahkannya hingga tingkat universitas. Namun dari sinilah konflik ibu dan anak dimulai..

Seiring dengan ilmu yang bertambah, ditambah hasil "doktrin" dari guru-guru yang mengajarnya, Rahayu mulai bersikap untuk menilai ibunya. Menurut gurunya, sikap Sumarni yang masih menganut aliran animisme adalah sirik dan tidak diperbolehkan oleh agama. Begitulah kata gurunya dan begitu pula Rahayu memandang Sumarni.

Rahayu menganggap tingkah Sumarni yang masih memberikan sesajen kepada arwah leluhur dan tirakat tengah malam di bawah pohon sambil berdoa kepada Ibu Bumi adalah sebuah dosa besar. Bahkan tak jarang Ia membuang sesajen berupa tumpeng dan ayam panggang yang diletakkan oleh Sumarni. Ia marah besar kepada ibunya. Diapun menyuruh ibunya untuk hanya meminta kepada Allah swt.

Dan bagaimana dengan Sumarni? Dalam posisi nya ini, aku bisa mengerti bagaimana perasaan Sumarni. Tentunya Ia menjadi sedih dan sakit hati sekali melihat tingkah laku putrinya. Tapi ibu adalah tetap menjadi ibu, cintanya akan memaafkan semua tingkah laku putrinya yang tidak berkenan di hatinya.

Bagaimana mungkin aku meminta kepada Allah swt sedangkan aku tidak pernah mengenalnya...

Jawaban yang sangat sederhana inilah yang diberikan Sumarni pada Rahayu. Jawaban yang memberikan perenungan yang dalam kepadaku yang membacanya.

Okky Madasari membuat buku ini dalam dua sudut pandang, yaitu Sumarni dan Rahayu.. dua tokoh perempuan sentral yang berperan besar dalam cerita ini. Di dalamnya, kita akan melihat dengan jelas bagaimana kondisi sosial Indonesia saat itu. Bagaimana pemaksaan kehendak saat pemilu berlangsung, bagaimana tentara-tentara yang bertugas menjaga keamanan pasca revolusi pun berubah menjadi preman yang tak segan menggunakan kekuasaannya untuk memalak masyarakat kecil dengan dalih uang kemananan. Tidak menurut? maka kamu adalah PKI. Masalah petrus alias penembak misterius pun disinggung di buku ini. Bagaimana kematian misterius tiba-tiba orang yang katanya preman itu ternyata tidak menimbulkan ketenangan pada masyarakat, namun malah menimbulkan... TEROR.

Bahkan Okky juga menceritakan bagaimana pemaksaan program KB dilakukan saat itu. Pemaksaan karena, masyarakat yang tidak tahu menahu itu disuruh untuk mendapatkan suntikan KB tiap bulannya tanpa tahu apa akibatnya. Dan lagi-lagi kalau tidak menuruti akan dicap PKI.

Terlihat sekali pada masa itu, bagaimana Orde Baru membuat image PKI menjadi sangat menyeramkan. Menjadi PKI artinya kalian akan dipenjara dan ditandai seumur hidup lewat KTP kalian. KTP kalian akan berhiaskan hurf ET alias Eks Tahanan. Dan itu artinya, tidak ada lagi yang mau memperkerjakan kalian atau berhubungan dengan kalian lagi. Kehidupan sosial para ET ini kiamat dengan sendirinya.

Selain itu, Okky juga sedikit menyinggung mengenai Tragedi Kedung Ombo. Tragedi yang memakan korban para penduduk sekitar. Pusat memerintahkan ganti rugi tanah untuk pembangunan waduk Kedung Ombo adalah Rp 3000/m2 namun kenyataannya yang ditawarkan kepada masyarakat hanya Rp. 300/m2. Sisanya? masuk ke kantong para kepala daerah. Dan lagi-lagi, TNI menggunakan kuasanya dan menjadi algojo untuk menyuruh para penduduk sekitar lokasi agar menerima ganti rugi yang ditawarkan.

Buku seperti inilah yang seharusnya banyak beredar di masyarakat. Buku yang dengan "santai" nya mencoba menceritakan sejarah Indonesia sesungguhnya. Buku-buku seperti ini akan memberikan kepada kita pandngan lain mengenai ketentraman yang kita rasakan di masa Orde Baru.

Buku ini menurutku, setara dengan Ronggeng Dukuh Paruk nya Ahmad Tohari dan di atas Pulang nya leila S. Chudori. Buku yang sangat memuaskan dalam hal pikiran dan nurani. Lima bintang untuk buku ini


No comments:

Post a Comment