Wednesday, October 30, 2013

Mengeja INDONESIA

Bait-bait lagu Tomorrow Will Be Better –nya Att 9 mengalir di celah speaker laptopku, menembus keheningan malam tepat pukul 10.03. Awan kumulus baru saja menggumpal di atas perairan Laut Jawa, lalu diarak menuju daratan Jakarta, dan seketika hujan deras tumpah ruah dibalik asap kelabu langit yang kerontang. Sepanjang bulan yang bergulir, seolah Tuhan mencampakkannya dengan memberkahinya banyak air dari langit dan menyebabkan banjir di beberapa kawasan. Jakarta yang malang. Namun, alih-alih menyalahkan Tuhan atas segala pengaturan musim tak jelas itu, aku malah melongok ke dalam lembar demi lembar buku karya Lelia S. Chudori yang sudah dua hari ini kubaca.




Judulnya Pulang..

Dengan cover berwarna latar kuning dan bergambar tangan yang mengepal ke atas, disertai dengan tulisan berwarna merah yang dibuat menyerupai huruf-huruf yang dihasilkan oleh mesin ketik membentuk kata "pulang" telah membawa pikiranku mengelana membayangkan kalau sebentar lagi aku akan diajaknya untuk berpetualang dalam cerita-cerita perjuangan. Cerita-cerita revolusi.

Tokoh utama dari novel ini adalah wartawan sebuah kantor berita di dekat jalan Sabang. Walau di novel ini disebut Nusantara, kita semua tahu di dekat Jalan Sabang ada kantor berita Antara. Ayah dari Leila S. Chudori pengarang buku ini adalah wartawan dari kantor berita Antara tersebut, begitu pula dengan Leila sendiri yang saat ini berprofesi sebagai wartawan di salah satu media di Indonesia. Jadi menjadikan wartawan sebagai profesi sang tokoh utama sungguh pilihan yang tepat, karena hal itu sangat dekat dengan keseharian penulis.
Berlatar waktu tahun 1965, aku merasa bisa memahami situasi di kantor berita tersebut. Bahwa disekitar tahun 1965 ada tiga kubu. Ada yang sangat merah, aktif pada diskusi dan kegiatan lembaga-lembaga yang berafiliasi dengan PKI. Ada juga yang sangat hijau, para pemuja pemikiran M. Natsir. Namun ada pula yang tanpa warna. Mungkin mereka kelompok terbanyak, karena pada dasarnya wartawan adalah orang yang paling bebas dan merdeka sedunia.

Dimas Suryo sang tokoh utama, wartawan tak berwarna. Dia hanya kebetulan menghadiri konfrensi wartawan merah di Santiago, menggantikan sahabatnya yang merah, demi sebuah alasan merah muda. Cinta. Pada saat dia disana, Jakarta menjadi merah darah. 30 September 1965.

Dan, tiba-tiba saja Dimas terjebak nasib. Tidak bisa kembali ke tanah air. Sempat ke peking, Kuba, dan akhirnya terdampar di Paris. Menikah, mempunyai anak, merintis karir yang tak mungkin. Tetapi puluhan tahun berlalu, tak sedikitpun memutuskan rindu untuk mencium wangi pembahagiannya, yang hanya bisa diwakili oleh cengkih, dan kunyit, serta aroma tanah karet.

Ide Leila sendiri dalam menuliskan hal ini tidaklah bisa dikatakan original. Aku tahu, dia terinspirasi dari sebuah cerita yang dikisahkan oleh Sobron Aidit, adik dari DN Aidit yang menjadi eksil dan menetap di Perancis dengan membuka sebuah restoran Indonesia disana. Restoran tersebutlah yang dihadirkan di buku Pulang ini sebagai restoran Tanah Air yang dikelola oleh empat serangkai yaitu Dimas Suryo, Nugroho, Tjai dan Risjaf.

Dimas kemudian menikah dengan seorang gadis Perancis dan mendapatkan seorang anak yang bernama Lintang Utara.

Sebenernya pokok masalah dalam novel ini terletak pada diri Lintang Utara. Sebagai seorang anak dari seorang pria yang dianggap sebagai pengkhianat negara tentunya tidak mudah. Bahkan di Perancis sekalipun. Para birokrat-birokrat di kedutaan besar Indonesia di Perancis sana menganggap restoran Tanah Air sebagai restoran PKI. Bahkan isu tersebut dihembuskan kepada pihak keamanan Paris sehingga memaksa hidup mereka pun sedikit tidak tenang walau tinggal jauh dari Indonesia.

Hal tersebutlah yang ingin diceritakan oleh Leila melalui buku ini. Sebuah cerita dari keluarga para eksil, bahkan lebih suram lagi.. keluarga dari mereka-mereka yang dianggap sebagai PENGKHIANAT NEGARA.

Kecewa, sungguh kecewa.

Kecewa ketika ternyata buku ini "hanya" bercerita dari sisi itu nya saja. Dengan cover depan yang terlihat sangat "revolusi" sekali, buku ini sungguh mengecewakan. Jika dibandingkan dengan buku lain yang terbit nya hampir bersamaan dan mengambil setting waktu yang sama dengan buku ini yaitu novel Amba karangan Laksmi Simanjuntak, buku ini jadi terlihat seperti buku roman yang hanya mengambil setting peristiwa berdarah tahun 1965 dan 1998.

Yup, buku ini juga mengambil setting ketika kekacauan politis pada tahun 1998. Dimana Lintang Utara anak dari Dimas Suryo berkunjung ke Indonesia untuk membuat skripsi yang menceritakan tentang nasib para keluarga para pengkhianat negara tersebut.

Buku ini over dosis dengan kisah-kisah asmara! sangat over dosis. Dimulai dengan kisah cinta Dimas dan Surti, lalu Dimas dan Vivienne bahkan sampai Lintang dan Segara Alam. Aku tahu pengarang novel ini adalah perempuan, aku tahu  bagaimana model novel-novel beliau sebelumnya. Tapi melihat kalau buku ini hanya seperti ini saja, aku kecewa. Oh man.. bukan drama yang mau aku baca dalam buku ini, setidaknya dalam sebuah buku dengan cover depan yang sangat membuatku bergairah akan revolusi. Bukan ini.. Dan bukan pula sisipan cerita-cerita vulgar adegan percintaan antara Dimas dan Surti di meja makan atau Dimas dan Vivienne di apartemen sempit bahkan bukan pula adegan sex Lintang Utara dan Segara Alam di tengah kecamuk kerusuhan 98. Bukan itu!

Aku menginginkan lebih! Aku berharap ada cerita yang akan membangkitkan rasa mencintai negri ini, bukan malah membaca galauan sang tokoh utama yang awalnya kukira menyimpan cengkih dan kunyit untuk melambangkan kecintaannya pada Indonesia. Namun di akhir-akhir cerita aku jadi tahu kalau aku kecele. Kunyit dan cengkih itu ternyata melambangkan.... ah sudahlah.. give me back my money *jedukin kepala ke meja*.
Ditambah lagi Time frame nya yang meloncat-loncat, dari masa lalu ke masa kini.  Loncatan waktu ini menyulitkan aku untuk merekonstruksi setiap adegan di dalamnya. Dengan gaya cerita yang lompat-lompatan dan beraneka sudut pandang seperti ini, ceritanya jadi sedikit memerlukan waktu untuk dikunyah. Bagaikan sop yang kepanasan, aku jadi mesti pelan-pelan dan bolak-balik membacanya sehingga kelezatan sop ini jadi tidak bisa dinikmati.

Seorang teman pernah mencibirku gara-gara hal ini.. katanya otakku tipikal otak kiri, jadi setiap hal harus tersusun sistematis. Tapi aku tidak peduli, yang berhak menentukan kiri atau kanan kan hanya tukang parkir bukan dia.

Kemudian penokohannya. Menurutku, Leila kesulitan dengan karakter dan visualisasi fisik setiap tokoh-tokohnya. Dimas Suryo, Segara Alam, Hananto Prawiro, dan Naraya digambarkan dengan kondisi fisik yang hampir sama.. ganteng dan perawakannya tinggi. Lalu tidak adanya suatu ciri khas yg membedakan perbedaan generasi diantara para tokoh-tokohnya kecuali hanya dengan penggunaan kata-kata gaul seperti bokep, ngehe dsb.. dan menurutku hal itu tidaklah cukup. Fail.

Lalu aku juga agak terganggu dengan sisipan-sisipan syair lagunya Led Zeppelin. Seperti cerpen remaja saja disisipkann syair-syair seperti itu. Malu ah sama cover bukunya yang amat menggelora. :p

Jadi berapakah rate nya?

3 from 5

Waaa.. masih dapat tiga ya padahal sudah banyak nilai minus yang diungkapkan di paragraf-paragraf awal?
Ya, karena harus kuakui kalau aku suka caranya Leila S. Chudori bercerita dalam buku ini. Suka gaya bahasanya minus bahasa-bahasa gaul yang menurutku terlalu dipaksakan. Suka bagaimana dia berhasil membawa aku yang kecewa ini menikmati perjalanan hidup Dimas Suryo dan keluarga serta teman-temannya. Ibarat nasi telah menjadi bubur, Leila S. Chudori berhasil meramu bubur tersebut menjadi bubur ayam yang lezat.
Dan sedikit fakta yang berhasil dituliskannya di buku ini mengenai kehidupan para keluarga eksil politik yang harus menanggung dosa yang tidak pernah mereka lakukan pun menjadi nilai positif dan penyegaran dari buku-buku bertema sejarah yang sudah ada.

Akhir kalimat, aku tetap meyakini, tidak akan ada bangunan sejarah yang tegak diatas fondasi kepicikan dan arogansi. Tidak akan ada kebenaran yang terjamah dengan kesempitan berpikir. Dan tidak akan ada kebaikan yang tersyiar dengan keangkuhan qalbu dan kedangkalan fikriyah. Bukanlah seorang manusia besar jika Ia masih terbelenggu dengan kekerdilan ego dan terjebak pada nafsu menilai benar dan salah sebuah perbedaan dari satu perspektif belaka. Para anggota eksil politik ini tidak seharusnya menerima penghakiman sepihak atas apa yang tidak pernah mereka kerjakan, atas sebuah ideologi yang dianut oleh nenek moyang yang ternyata tidak sesuai dengan ideologi sang penguasa negara.


Pulang
by. Leila S. Chudori
Paperback, 464 pages
Published December 4th 2012 by Kepustakaan Populer Gramedia
ISBN 139789799105158
edition language Indonesian

No comments:

Post a Comment