Sunday, September 29, 2013

Inferno


INFERNO - NERAKA

by. Dan Brown
644 pages, Bentang Pustaka


Pagi-pagi berasa kena sindir korum BBI gara-gara lihat postingan beliau di google+ hahahah.. Sindirannya ga jelek kok. Beliau cuma posting screenshoot twitnya Ika Natassa yang ngucapin makasih untuk setiap reviewer buku. Karena sebuah review akan menjadi semacam pancingan agar orang lain yang membaca review kita menjadi tertarik untuk membaca buku yang kita review tersebut. Tertohok lah saya karena blog saya akhir-akhir ini isinya bukan review buku :D. Terima kasih pak korum dan kak Ika yang sudah mengingatkan.. hehehe..

Pagi ini saya mau mereview buku dari salah satu author favorite saya. Dan Brown. Perjumpaan awal dengannya dimulai dengan buku The Da Vinci Code yang sangat fenomenal tersebut. Fenomenal karena terkait dengan salah satu agama. Kemudian berlanjut ke buku-buku yang lain yaitu angel and demonds, digital fortress, deception point, the lost symbol dan yang terakhir buku ini.. Inferno.

Untuk yang sudah berpengalaman membaca buku-bukunya Dan Brown, tentunya sudah cukup akrab dengan plotnya ataupun twist nya. Dan Brown biasanya akan menunjuk orang yang tidak kita sangka-sangka sebagai tokoh antagonis yang sebenarnya. Dan hal ini akan menimbulkan semacam kebosanan tersendiri, karena makin lama buku-bukunya Dan Brown menjadi mudah untuk ditebak. 

Tapi kayaknya hal itu tidak berlaku untuk buku terakhirnya ini. Setidaknya untukku, Inferno sungguh amat sangat mengecoh pembacanya.

Pembaca akan disuguhkan ketegangan dari awal dalam Inferno. Biasanya, kisah Robert Langdon akan dimulai dengan aktivitas Langdon yang sedang menyeduh kopi Sumatera lalu mendapat panggilan misterius, atau Langdon yang baru bangun tidur di rumahnya yang kemudian juga mendapat panggilan atau fax misterius yang meminta bantuannya. Namun di buku ini, kita akan mendapati seorang Robert Langdon yang sedang terbaring di sebuah kamar rumah sakit, kemudian berhadapan dengan seorang dokter yang tidak bisa berbahasa Inggris dan kepala yang sakit sekali..

Hei.. dimanakah dia berada? Ingatan terakhirnya, dia baru saja mengajar di Harvard.. di sebuah tempat yang tentu saja semua orang mahir berbahasa Inggris. Lalu dimanakah dia sekarang? Dan pertanyaan ini langsung terjawab begitu dia mengarahkan pandangannya pada jendela kamarnya.. mulutnya ternganga melihat apa yang ada di luar sana.. Kubah yang menjulang itu... itu adalah Bassilica di Santa Maria :O dan itu tandanya dia sedang berada di kota Firenze Italy? Apa yang terjadi?

Keterkejutannya tentang dimana dia sekarang sedang berada, tidak berlangsung lama. Seorang wanita dengan tubuh berbalut pakaian hitam dan rambut jabriknya, memaksa masuk untuk menemuinya. Dan apa yang dilakukan wanita itu kemudian mencengangkannya. Dia mengarahkan pistolnya pada dokter yg tidak mahir berbahasa Inggris itu karena menghalangi jalannya, dan boooom.. dokter tersebut terkapar tak berdaya.

Dr. Sienna Brooks, rekan dokter Italy yang tertembak tadi segera menyelamatkan Langdon. Bersama-sama mereka menuju apartment si dokter cantik tersebut untuk menyelamatkan diri. Dan dari sinilah Langdon mulai menerka-nerka apa yang sebenernya terjadi dengan dirinya dibantu oleh dr. Sienna.

Tabung berstempel bio hazard dalam jaketnya..

La Mappa dell'Inferno karya Sandro Boticelli..

Dante Alighieri dan karya fenomenalnya The Divine Comedy..

Kata-kata V Sorry yang diucapkannya berkali-kali ketika baru sampai di rumah sakit..

Wanita yang memburunya..

Ditambah lagi dengan serombongan pasukan terlatih yang juga ikut memburunya setelah dia menelpon perwakilan Amerika Serikat di Italy.. apa ini artinya pemerintahnya sendiri menginginkan dia mati??

Dan sebuah virus serta penglihatannya mengenai wanita berambut perak dalam mimpinya, serta perintah wanita itu kepada Langdon untuk segera menemukannya agar dunia selamat..

Oiiyy.. apa yang sebenernya sedang terjadi pada dirinya?

Silahkan membacanya sendiri.. :p


---


Empat hari ternyata waktu yang aku perlukan untuk menyelesaikan buku ini. Bukan hal yang bisa dibanggakan sebenernya, karena biasanya aku dapat menyelesaikan buku2nya Dan Brown dalam tempo...... satu malam.

Beberapa orang menyebutkan, plotnya sudah gampang ditebak jadinya membosankan. Sampai pertengahan buku ini, aku memang merasa buku ini agak membosankan.. tapi bukan karena plot yang gampang ditebak, namun lebih karena Dan Brown terlalu banyak memberikan penjelasan panjang lebar untuk karya seni yang tidak berhubungan dengan kasus. Sehingga menyebabkan fokus teralihkan dan tensi sedikit mengendur.. rasa2nya jadi seperti membaca buklet wisata museum saja.

Lalu, buku ini membosankan atau lebih tepatnya membingungkan kali yah, karena aku buta sama sekali terhadap karya fenomenalnya Dante.. The Divine Comedy. Ini jadi pekerjaan rumah buat aku untuk membaca Divine Comedy dulu sebelum mengulang membaca buku ini.

Namun untuk twist? ini sepertinya twist paling keren dari seluruh buku-bukunya Dan Brown yang pernah aku baca. Sama seperti Robert Langdon yang terkena ilusi, akupun juga terkena ilusinya Dan Brown :D bisa2nya aku menganggap kalau Bertrand Zorbist adalah seorang homoseksual.. hahaha serius aku terkaget-kaget ketika tahu siapa dan apa yang sebenernya terjadi.

Untuk tema utama.. yeay Santo Dan Brown, aku menyukai teror genetika ini. Sebuah isu tentang bio weapon yang sebenernya mungkin sudah lama dipraktekkan oleh negara-negara maju sana.

Israel yang disuport kuat oleh USA termasuk negara yang sangat serius melakukan riset tentang bio weapon. Bio weapon yang mereka rancang aku kategorikan sebagai sebuah senjata genocide. Mengapa ? karena senjata tersebut dirancang untuk memusnahkan etnik tertentu, terutama etnis arab yang menjadi kerikil sandungan mereka mendirikan negara Israel raya di tanah Palestina. Bom biologis seperti begitu mengerikan, bahkan di film Mission Impossible III tersisip ide kedahsyatan bio weapon yang dilansir akan melebihin efek kehancuran senjata konvensional.

‘Are the Israeli bio-weapons possible? Yes they are! For example, the Jews are developing a bio-weapon against the Arabs using a site-directed mutagenesis techniques to fine tune cell receptor binding sites on the hepatitis C virus to specifically target cell surface receptors, and then by cloning a toxin gene, like the diphtheria toxin gene, into the HCV genome, a genetically engineered bio-weapon can be created to eradicate an ethnic group of people. (M.F. Hammer, Proc. Nat’l Academy of Science, May 9, 2000)

Selain etnis arab, ras kulit hitam di afrika selatan juga menjadi salah satu eksperimen bio weapon Israel dengan tujuan penguasaan tambang-tambang berlian.

‘The Blacks of South Africa should have no doubt that as soon as Israel perfects their targeted bioweapons against them, the Jews will use the bioweapons to reclaim the diamonds mines that were lost with the end of apartheid. Until then, Jews are using the Aids virus as a bioweapon against the South African Blacks to decimate their population, which explains why South Africa has the largest number of people living with HIV/Aids of any country in the world. American Blacks should also be forewarned about the use of targeted Black bioweapons against them, because of the long history of tension between American Blacks and Israel over Jewish racism in South Africa and the Middle East’.

Jadi sebenernya apa yang dibilang Langdon di halaman 611 tentang membinasakan etnik pada level genetis bukan sesuatu yang mustahil.

Aku sudah sering bercerita tentang genome marker pada orang Yahudi kan?

Karena tradisi pengisolasian yang kuat dalam komunitas-komunitas yahudi seluruh dunia menjadikan DNA/genome mereka memiliki semacam marker/penanda genetik. Jadi ada semacam daerah lestari / conserve region dalam untai DNA mereka yang dipertahankan lebih dari ratusan generasi.

Keunikan ini yang justru memudahkan perancangan senjata biologis sebagai serangan balik kepada zionis Israel. Bila senjata nanobiologis ini tercipta, misalkan dalam bentuk virus yang memiliki protein receptor yang secara spesifik mengikat pada marker/ penanda DNA yahudi. Efek paling ringan bisa dirancang untuk sekedar menimbulkan penyakit tertentu yang hanya mewabah pada orang Yahudi atau dalam yang paling garang merupakan virus pembunuh yang mengekspresikan toksin-toksin mematikan.

Ketika virus ini tersebar, tak ada yang orang Yahudi yang bisa sembunyi. Walaupun sembunyi di balik batu atau kayu sekalipun.

Itu cuma khayalanku saja tentang bio weapon etnis Yahudi ini. Genocide itu jahat.. Namun mungkin Genocide adalah salah satu skenario dari Tuhan untuk menanggulangi over populasi di bumi-Nya. Gara-gara buku ini pula, sekarang setiap ngelihat macet langsung berfikir ke over populasi :D

Itulah mengapa aku lebih menyukai buku ini dibandingkan TDVC. Alasannya sederhana, karena apa yang dijadikan masalah utama dalam buku ini bersifat nyata, bukan tentang kelompok-kelompok rahasia yang keberadaannya masih berkisar pada dongeng-dongeng sebelum tidur.

Tempat tergelap di neraka, dicadangkan bagi mereka yang tetap bersikap netral di saat krisis moral sedang terjadi.




Rate : 4/5 

No comments:

Post a Comment