Monday, July 8, 2013

Akhir Biografi Fiksi Sang Pengarang


Rantau 1 Muara


by. A. Fuadi
Paperback, 400 pages
Published May 27th 2013, Gramedia Pustaka Utama



Sebelumnya, aku mau ngucapin terima kasih kepada Mbak Yudith dari GPU yang sudah memberikan buku ini untuk direview, juga Mas Dion yang menjadi perantara antara diriku dan Mbak Yudith. Sejujurnya, aku agak gambling ketika memilih buku ini, karena aku tidak menyukai buku pertamanya dan belum membaca buku keduanya. Deg-deg kan dan bertanya-tanya bisakah aku menyelesaikan buku ini. Bukan menyukai tapi menyelesaikan, soalnya aku tidak mau berharap banyak. Dan hasilnya? Aku bukan hanya bisa menyelesaikan buku ini, namun juga sudah merencanakan untuk membaca ulang buku pertama dan kedua. Karena persepsiku terhadap trilogi Negeri 5 Menara ini sudah bergeser.

Banyak hal yang melintas di benakku ketika aku membaca buku ini. Yang pertama tentu saja buku-bukunya Andrea Hirata, lalu bukunya Iwan Setyawan, bukunya panji yang berjudul Nasional.Is.Me, sampai kisah seorang Doktor peneliti jenius yang sekarang menyambi bisnis pasir besi. Dan pertanyaan ini semakin menggelayut dalam pikiranku..

Apa sebenernya yang menjadi tujuan orang-orang yang belajar ke luar negeri?

Buku ini berkisah tentang Alif, seorang anak rantau dari Sumatera barat yang dalam buku ketiga ini dikatakan sudah  lulus Strata satu di salah satu perguruan tinggi di Bandung dan juga baru saja selesai dalam pertukaran pelajar di Kanada. Buku ini memang terinspirasi oleh kisah hidup dari sang pengarang sendiri.. sebuah biografi fiksi.

Setelah lulus dari Universitas Pajajaran, Alif dihadapkan pada kenyataan hidup yang sebenarnya. Di tengah ketidaktentuan kondisi di Tanah Air yang saat itu sedang mengalami masa-masa yang orang-orang bilang reformasi, Alif harus mencari kerja. Penghasilannya dari mengirimkan artikel-artikel di koran-koran lokal dan nasional harus terhenti karena pihak koran memutuskan berhemat dalam rangka krisis moneter dan tidak lagi memakai penulis freelance lagi seperti Alif.

Dari satu wawancara ke wawancara lain, dari satu surat penolakan ke surat penolakan lain (eh enak banget ya zaman dulu kalau ditolak dikasih surat, zaman sekarang mah mana ada pemberitahuan kalau ditolak). Ditambah lagi "persaingannya" dengan Randai kawannya yang dijadikan sebagai kompor semangat oleh Alif untuk terus maju.. Akhirnya Alif mendapatkan pekerjaan di salah satu majalah yang saat orde baru kena pembredelan oleh pemerintah. Majalah tersebut bernama DERAP.

Dari sini Alif mendapat banyak pengalaman. Dari mulai harus tidur di kantor karena mengerjakan deadline sampai mengejar narasumber seorang petinggi TNI di zaman orde baru yang disinyalir terkena pelanggaran HAM. Belum lagi godaan uang-uang berstatus subhat (belum jelas halal dan haramnya) yang bersliweran di sekitar para wartawan. Sungguh menggoda iman. Selain itu, Alif juga mendapat teman-teman baru. Ada Paus, Yensen, dan... Dinara. Seorang gadis berparas cantik, anak gaul Jakarta yang pintar dan berakhlak bagus. Benih-benih cinta pun saling bertaut di antara mereka, sampai permohonan beasiswa Fulbright Alif diterima dan harus meninggalkan Jakarta untuk melanjutkan kuliah di George Washington University. Keuletan dan konsistensinya membuahkan hasil. Satu persatu mimpinya terwujud. Satu lagi "mantra" yang selama ini digenggamnya telah memperlihatkan "sihir" nya.

Man saara ala darbi washala.. Siapa yang berjalan di jalannya akan sampai di tujuan.

Namun bagaimanakah kehidupan Alif di Amerika Serikat? Bagaimana kisah cintanya dengan Dinara? Dan apa yang terjadi dengan Alif ketika tragedi 11 September terjadi?

---

Satu lagi buku yang menjual mimpi. Diceritakan dengan sangat apik oleh Ahmad Fuadi selaku Author. Walau tanpa konflik yang menjadikannya klimaks, buku ini tetap enak untuk dinikmati. Selama menikmatinya pun aku tidak menemukan typo. Bahkan aku banyak menemukan kata-kata baku baru yang sebelumnya aku tidak tahu, seperti tergagau dan setentang. Umm.. mungkin saja ada typo tapi aku sungguh tidak terganggu karena terhanyut oleh jalan ceritanya. Terhanyut dengan perjuangan Alif dalam menggapai mimpinya, terhanyut dengan kisah romansa antara Alif dan Dinara yang khas anak pondok. Malu-malu gimana gitu. :D Sulit deh membayangkan kalau anak pondok tuh bisa jatuh cinta juga atau bisa juga ngegombal hahhaha :D

Balik ke menjual mimpi. Buku ini pastinya bukan buku pertama yang bercerita tentang sekolah atau kerja di luar negeri. Sebelumnya kita sudah akrab dengan buku-bukunya Andrea Hirata dan selanjutnya ada bukunya Iwan Setyawan. Menjual mimpi bukanlah sebuah hal yang buruk. Seorang dosen ku pernah berkata bahwa modal awal sukses adalah mimpi. Banyaknya buku-buku bertema seperti ini, seakan-akan membawa euforia mimpi untuk bersekolah di luar negeri. Namun sekali lagi, apakah tujuan orang-orang yang memutuskan berkuliah di luar negeri? jelekkah pendidikan di Indonesia? kurang bergengsi kah? Ataukah untuk medapatkan gelar seumpama M.Sc atau Ph.D? ataukah ada tujuan yang lain?. 

Kalau aku lihat, kebanyakan orang sekolah di luar adalah untuk mendapatkan gelar. Akhirnya ketika mereka pulang, mereka hanya bangga dengan gelar yang sudah menambah panjang namanya. Tidak melangkah ke tataran selanjutnya yaitu "apa yang akan aku lakukan ketika pulang ke tanah air?". Memang di sini perlu adanya sinergi antara pemerintah dan para alumnus universitas luar ini, agar kemampuan mereka bisa diberdayakan demi kemajuan tanah air. Para alumnus luar negeri inipun harus memiliki rasa nasionalisme yang tinggi juga kemampuan berinovasi, sehingga ketika mereka kembali, mereka dapat mencari celah di antara keterbatasan yang dimiliki negeri ini. 

Temanku pernah cerita, peneliti di LIPI yang gelarnya ngeri-ngeri (prof. Dr. M.Sc Ph.D DEA Dr. Eng dll silahkan teruskan sendiri) tidak bisa berbuat banyak mengembangkan aplikasi ilmunya. Malahan katanya, ada seorang Doktor peneliti jenius yang di bidang Magnetic Material Science, akhirnya malah nyambi bisnis pasir besi hehehe. Itulah mengapa aku katakan perlunya inovasi. Sayangkan kalau sudah sekolah susah-susah dan jauh-jauh tapi tidak terpakai?

Karena hal ini pula, aku selalu berkelakar jika sedang mengantar teman atau membantu teman menuliskan aplikasi beasiswanya dan mereka menanyakan mengapa aku tidak ikutan.. Aku selalu berkata..
Biarlah aku disini, menjaga gawang negeri ini. Membagi ilmu yang aku miliki kepada lingkungan sekitarku. Dan juga, biarlah aku di sini untuk menyiapkan negeri ini agar ketika kalian pulang dengan gelar Ph.D kalian, negeri ini sudah siap menampung ilmu yang kalian miliki.

Sounds revolusioner uh? 





3 comments:

  1. hehehe, keren ko kak. Semangat :)

    ReplyDelete
  2. kalau aku pengen sekolah ke luar negeri supaya bisa dapat ongkos ke sananya gratis :D barulah start jalan-jalan kalau sudah di sana. kantorku gak mungkin ngasih kesempatan jalan2 gratis..
    makanya kalau ditanya : mau ke negara mana? mana aja deh. buat belajar mengenal diri sendiri juga. buat belajar untuk tidak manja lagi..

    ReplyDelete
  3. Aku sukaaa reviewnyaa Mba luna
    Kmaren baru selese buku satu sama buku yang kedua.
    Buku yang ketiga lagi nyari pinjeman Hahaha xD
    Kalo aku pengen ke luar negeri karena aku pengen jalan jalan Hahahaha :p

    ReplyDelete