Friday, May 17, 2013

Seekor Filsuf?



Enzo,The Art of Racing In The Rain


Paperback, 412 pages
Published April 2009 by PT. Serambi Ilmu Semesta
ISBN 139789790241503
edition language Indonesian



"Cerita yang sejajar dengan The Alchemist (Paulo Coelho) dan Life of Pi (Yann Martel)...." -The Portland Oregonian-

Komentar dari The Portland Oregonian di atas sebenernya udah bikin diriku nyengar-nyengir sendiri pas ngebacanya. Dan membayangkan kalau Ini buku pasti bikin ngawang-ngawang. Pasti deh penuh dengan kalimat-kalimat yang aku sendiri ga bisa cerna maknanya apa, karena seperti masuk kuping kiri terus mental lagi dan hanya membuat aku bengong dan terpana hahaha.. Buku-buku filsafat memang bukan jenis buku favorite ku.

Dan begitu baca bukunya jreng jreeeng.. Langsung nyengir lagi  . Ini adalah buku teraneh yang pernah aku temuin sampe detik ini. Sebuah buku yang mengambil point of view seorang anjing. Anjing nya anjing filsuf lagi. Aku jadi tidak sanggup membayangkan kalau anjing seperti ini benar-benar nyata di dunia, aku pastilah orang yang pertama minder dengan keberadaan mereka.

Buku ini bercerita tentang Enzo dan hubungannya dengan tuannya Denny Swift seorang pembalap semi professional serta istri nya Eve dan Zoe anak mereka. Sebuah cerita dengan tema yang sederhana sebenarnya yaitu tentang cinta kasih, dan keluarga namun dikemas dengan cara yang tidak biasa, dan juga bercerita tentang obsesi Enzo menjadi seorang manusia.
Enzo merasa dirinya adalah anjing yang berbeda dengan anjing lainnya. Enzo bukan anjing golden retriever biasa, karena pikirannya sangat ‘manusia’. Ia gemar menonton F1 dan National Geographic, melalui Denny Ia memperoleh pemahaman soal hidup. Menurut Enzo juga, balapan adalah tentang disiplin dan kecerdasan, bukan hanya siapa yang bisa melaju lebih kencang. Dia yang membalap dengan pintar akan selalu menang pada akhirnya.

Setelah menonton acara di national geographic tentang proses reinkarnasi anjing menjadi manusia yang dipercaya oleh rakyat mongolia, Enzo semakin yakin bahwa di kehidupan selanjutnya dia pun akan menjadi manusia. Dan dia mempersiapkan hal itu! Dia mempelajari bagaimana mengunyah makan layaknya manusia dsb. Setelah mempelajari apa saja yang diperlukan untuk menjadi manusia mulia dan sukses, anjing bijaksana itu tak sabar lagi menunggu kehidupan selanjutnya.

Awal-awal membaca buku ini aku merasa skeptis karena aku tidak menyukai dua tema utama dalam buku ini yaitu anjing dan dunia balap. Aku bukan seorang pet lover dan lebih suka sepak bola dibandingin balap mobil, ditambah buku ini penuh dengan narasi dan hanya sedikit bagian percakapan di beberapa bagian. Aku jadi sangsi apakah aku bisa bertahan menyelesaikan buku ini sampai akhir ? Dan jawabannya adalah iya, bahkan aku menyeleseikan buku setebal 412 halaman ini dalam waktu kurang dari satu hari. Narasi-narasi nya di tulis dengan cerdas dan jenaka.

Aku tergelak saat Enzo menantang teori Darwin yang mengatakan kerabat terdekat manusia adalah monyet, karena menurut dia kerabat terdekat manusia adalah seekor anjing. Dan untuk mendukung teorinya itu, dia pun berargumen seperti ini :

Bulan purnama muncul. Kabut menggantung pada batang terendah pohon cemara. Manusia itu melangkah keluar dari sudut tergelap dan mendapati dirinya mulai berubah menjadi … seekor monyet? Kurasa tidak.” (Hal. 32)

Hahahaha  argumen yang dia maksud di atas adalah mengenai transformasi manusia serigala yang masih satu family dengan anjing. Dan saya terenyuh sambil memikirkan kata-katanya saat dia mengungkapkan keheranannya perihal perseteruan dua kubu mengenai teori darwin seperti ini :

"Namun, aku tidak mengerti kenapa para pendukung konsep evolusi dan konsep penciptaan bersikukuh untuk saling menjatuhkan. Kenapa mereka tidak bisa melihat bahwa spiritualisme dan ilmu pengetahuan merupakan satu kesatuan? Bahwa tubuh berevolusi dan jiwa pun demikian, dan alam semesta adalah tempat cair yang mengawinkan keduanya dalam satu paket menakjubkan bernama manusia. Apa yang salah dengan gagasan itu?"
(Hal. 29)

indah bukan ? 

Atau bagaimana ketika Enzo berfilosofis saat Denny sedang tertimpa musibah dengan kata-kata yang tidak kalah indah..

“ Siapa Achilles tanpa urat ketingnya? Siapalah Samson tanpa Delilah? Siapakah Oedipus tanpa kaki pekuknya? Pahlawan sejati memiliki cela. Ujian sesungguhnya untuk seorang juara bukan apakah dia bisa berjaya, namun apakah dia mengatasi rintangan apalagi yang berasal dari dirinya sendiri agar bisa berjaya." (Hal. 183)

Dan, lanjutannya adalah kalimat favorit aku, "Matahari toh terbit setiap hari. Apanya yang dapat dicintai? Kuncilah matahari di dalam kotak. Paksalah matahari untuk mengatasi rintangan agar bisa terbit. Baru kita akan bersorak! Aku akan kerap mengagumi matahari terbit yang indah, tapi aku tak akan pernah menganggap matahari sebagai sang juara karena berhasil terbit." (Hal. 184)

Buku ini mengajar mengenai nilai-nilai kehidupan, persahabatan, keluarga dan kasih sayang. Ada humor, drama, bahkan haru di setiap kisahnya.

Mungkin kalian akan berfikir "Apa istimewanya? Ini kan buku fiksi dan gak benar-benar ada anjing seperti Enzo." Gila memang jika mengira, bahkan berharap, buku ini non fiksi. Tapi tunggu sampai kamu menghabiskan beberapa bab di awal buku ini, pasti kamu akan sependapat dengan aku, hampir mustahil berpikir buku ini fiksi. Kalau buku The Man Who Loved Books Too Much nya Allison Hoover adalah buku yang terlalu fiksi sebagai kisah nyata, maka buku ini adalah kebalikannya buku ini adalah kisah fiksi yang terlalu logis dan menyentuh seolah itu benar-benar nyata.

Mengutip kalimatnya AS. Laksana, bahwa kisah yang bagus adalah kisah yang nyata dan logis. Kisah Enzo menjadi logis karena setiap unsur dalam buku Stein ditempatkan dengan seksama. Bahkan hal-hal spele dengan sengaja diletakkan penulis agar kisahnya benar-benar menjadi hidup, masuk akal, dan membuat pembaca percaya kisah itu benar-benar ada. Seekor anjing dengan jiwa manusia.

Garth Stein sangat jenius menurutku. Dia paham betul bagaimana mengawali suatu paragraf dengan baik, lalu ritme menulis yang benar-benar terjaga, peristiwa demi peristiwa dalam hidup Enzo dan Keluarga Swift dia tuturkan dengan baik, dia tau kapan harus membuat penasaran dan kapan harus membuat pembacanya merasa lega. Hal itu sangat membantu sekali untuk menjaga hasrat membaca buku yang penuh dengan narasi ini.

Setiap ornamen dia tempatkan pada tempatnya. Bahkan melebihi teori-teori dalam menulis, dia melampauinya dengan menambahkan elemen luar biasa yaitu JIWA.

This book drives me to address love in another shape. I don't need more reason to listed it as one of my favorite book. I really lost word to describe. This book which like a sermon. Read it as if we listen the sound of universe

Thank Mr. Stein

Rate 4.5 of 5

No comments:

Post a Comment