Friday, May 31, 2013

Just wanna go a-travellin' through the pastures of the sky

Breakfast at Tiffany's
By. Truman Capote
164 halaman
Cetakan kedua, Maret 2009
Penerbit Serambi

Sulit rasanya membicarakan buku ini tanpa membicarakan filmnya. Karena filmnya lah yang melegenda. Setidaknya itu menurutku, karena aku pun baru tahu ada judul film ini setelah nonton serial Gossip Girl, dimana Blair Waldorf salah satu tokoh di serial itu sangat menyukai film ini, dari situlah aku mulai mengenal sebuah kalimat..

Breakfast at Tiffany's

Kemudian aktivitasku di sebuah perkumpulan buku, memberikan pengetahuan baru kalau film ini diangkat dari sebuah buku dengan judul yang sama.

Holly Golightly, seorang gadis berusia 19 tahun yang menjadi pelacur kelas atas. Cantik dan mempesona banyak pria, namun juga ceroboh dan serampangan. Sebuah kontradiksi yang membuat Holly semakin istimewa. Sifatnya yang cuek mungkin malah membuat pria-pria yang selama ini di dekatnya menjadi semakin gemas dan penasaran.

Hidup ketika dunia sedang dilanda perang, Holly yang bernama asli Lulamae harus kehilangan kedua orang tuanya. Hingga akhirnya dia dan kakaknya Fred lari dari rumah walinya dan tertangkap tangan sedang mencuri telur dan susu di gudang keluarga Doc Golightly. Setelah itu, Lulamae dan kakaknya Fred berada dalam pengasuhan Doc, hingga pada suatu hari Doc jatuh cinta dan melamarnya. Saat itu Lulamae baru berumur 14 tahun! Aku kurang tahu sih, apakah di Amerika pada tahun segitu pernikahan di bawah umur masih dianggap wajar atau tidak. Tapi yang pastinya, Lulamae tetaplah seorang gadis remaja.. yang jiwanya selalu penasaran dengan rasa ingin tahu yang tinggi.

Dia sering pergi jauh dari rumahnya.. 1 km.. 2 km.. 5 km.. hingga akhirnya dia pergi dari rumah suaminya, dan mengubah namanya menjadi.. Holly.

Holly Golightly, begitu sekarang dia dikenal. Tinggal di sebuah apartment berbata coklat di New York. Kota ini telah memikat Holly dengan segala gemerlapnya, dan dengan segera sebuah tempat telah menjadi favoritnya. Tiffany & Co. Sebuah toko perhiasan kelas atas.

Buku ini diceritakan dari sudut pandang "Aku". Seorang penulis lepas -yang tidak diketahui namanya-, tetangga apartmentnya yang diam-diam juga menjadi pengagumnya. Diceritakan dengan model yang lurus-lurus aja. Dalam artian, si penulisnya Truman Capote seperti sedang menyerocos tanpa henti. Gaya penulisan yang terkadang membuatku keblinger juga. Karena harus hati-hati dalam membaca untuk mengetahui scene tempat atau waktu dalam cerita yang kubaca telah berubah.

Terus terang saja, aku tidak suka dengan sudut pandang "Aku" yang digunakan oleh Capote. Karena aku lebih tertarik mengetahui isi perasaan Holly dibandingkan dengan perasaan seorang pengagumnya. Menikah di usia yang sangat muda, lalu hidup sebagai pelacur atas keinginannya sendiri, aku ingin sekali membaca apa yang dirasakannya terhadap hal-hal yang terjadi dalam hidupnya. Yah mungkin karena penulisnya seorang pria kalik, makanya model ceritanya jadi begini.

Aku belum nonton utuh filmnya, tapi tadi sempat mengintip opening scene dimana Audrey Hepburn yang memerankan Holly sedang melakukan "ritual suci" nya yaitu sarapan di depan etalase Tiffany & Co yang belum buka sambil memandang perhiasan-perhiasan dari jendelanya. Sebuah ritual yang menurut bukunya dilakukan oleh Holly untuk menenangkan dirinya. Bahkan menurutnya, efeknya lebih ampuh daripada menghisap mariyuana :D

Aku menyukai Holly. Beberapa sikapnya mungkin bisa sedikit memberi gambaran mengapa banyak pria yang jatuh hati padanya selain karena dia cantik. Dia berkepribadian kuat. Salah seorang temannya, bermaksud menolongnya dengan memberikan kesempatan casting di sebuah drama serial terkenal saat itu. Dalam pikiran temannya, dengan menjadikannya seorang aktris tentu akan membuat Holly menjadi kaya dan hidupnya akan senang. Tapi kamu tau apa yang dilakukan oleh Holly? Dia malah terbang ke New York pada saat casting itu berlangsung. Dia tidak mau menjadi artis, karena dia sadar dia tidak berbakat dan malah akan membuatnya kehilangan dirinya sendiri. Dia tidak mau seperti itu..

"Bukannya aku tidak mau kaya dan terkenal. Itu sudah ada dalam jadwalku, dan suatu hari nanti , aku akan berusaha meraihnya. Tapi jika saat itu tiba, aku masih ingin memiliki egoku.  Aku ingin tetap menjadi diriku sendiri saat terbangun pada suatu pagi yang cerah dan sarapan di Tiffany's." (Hal. 55)

Hidup Holly dekat dengan masalah. Dimulai masalah dengan tetangganya yang tidak suka dengan tingkah laku Holly yang selalu membawa pria yang berbeda-beda sampai berurusan dengan mafia narkotika. Holly yang lugu dan malang, sehingga dia dimanfaatkan. Bahkan ketika dia terjebak akibat keluguannya, dia harus menerima nasib kalau pria yang dicintainya, yang membuatnya belajar memasak, yang juga membuatnya menghentikan kebiasaannya pergi meninggalkannya. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula...

Tapi aku sangat menyukai endingnya. Endingnya tuh sesuai banget dengan karakter Holly yang aku tangkap dari novel ini. Cuek, pembangkang dan menikmati hidup.. bukan seperti ending filmnya yang katanya Hollywood banget -yang sudah dapat kubayangkan endingnya seperti apa walau belum melihat filmnya-

Well, untuk sebuah novel yang masuk dalam 1001 books you must read before you die (baca : kumpulan novel-novel tua yang sangat membosankan), buku ini menarik dan mudah diselesaikan. 3.5 bintang untukmu Holly.. cheeerssss.. selamat bersenang-senang di Rio, Miss Travelling.

Don't wanna sleep
Don't wanna die
Just wanna go a-travellin' through
The pastures of the sky

-Miss Holiday Golightly, Travelling-

No comments:

Post a Comment